trubus.id
Inilah Cara Mahasiswa IPB University Lestarikan Tenun Garut

Inilah Cara Mahasiswa IPB University Lestarikan Tenun Garut

Thomas Aquinus - Sabtu, 23 Nov 2019 19:00 WIB

Trubus.id -- Tenocity atau singkatan dari “Tenun Community” merupakan komunitas yang digagas dua mahasiswa IPB University yaitu Pahmi Idris dan Ningrum Yuniarti untuk pemberdayaan wanita non produktif  dalam menghasilkan kain tenun khas Garut. Adapun Garut dipilih karena sudah terkenal sebagai daerah penghasil sutera. Mulai dari bahan hingga tenunnya, hanya saja kain tenun berbahan sutera tersebut sejak tahun 1982 perlahan menghilang.

Wanita non produktif di sini merupakan kondisi wanita yang berada pada usia produktif atau lanjut usia yang ditandai dengan berkurangnya tenaga untuk melakukan kerja. Di Garut, sebagaimana disebut dalam data Kementerian Dalam Negeri,  terdapat 1.441 juta jiwa yang terkategori sebagai wanita non produktif.  Angka ini tersebar di beberapa desa di Kabupaten Garut.

“Melalui pemberdayaan dan pelatihan dengan konsep sharing economy,  diharapkan dapat memberikan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Mekarluyu. Terlebih lagi Tenocity ini dapat bermanfaat untuk melestarikan kearifan lokal khas Garut yaitu kain tenun serta meningkatkan produksi kain tenun khas Garut untuk memenuhi pangsa pasar domestik dan internasional,” terang Pahmi dalam keterangan tertulis yang diterima Trubus.id.

Baca Lainnya : Tenun Ikat Sumba Pikat Resepsi Diplomatik di KBRI Athena

Pahmi menjelaskan bahwa pemberdayaan yang dilakukan di komunitas Tenocity dilakukan melalui program Eltra (Elders Entrepreneurship Training). Melalui program ini, para wanita tersebut mendapatkan pelatihan mengenai pembuatan kain tenun khas Garut dengan bantuan para relawan untuk selanjutnya dapat memproduksi kain tenun itu sendiri. “Tenocity memproduksi kain tenun yang dilakukan oleh wanita non produktif dengan sistem produksi yang sederhana namun memiliki nilai jual yang baik,” tambahnya.

Sementara itu, Ningrum Yuniarti menjelaskan lebih dalam mengenai program Eltra di Desa Mekarluyu dalam durasi waktu delapan sampai sepuluh bulan yang dilakukan di akhir pekan dalam bentuk pelatihan, seminar, workshop, dan mentoring. “Nantinya akan dibuatkan modul yang berisi kurikulum dan indikator keberhasilan dari setiap sub program yang ada dalam Eltra,” ungkapnya.

Baca Lainnya : Tenun Baduy, Kini Makin Disuka karena Warna Cerahnya

Melalui gagasannya, Pahmi dan Ningrum meraih penghargaan Juara 1 dalam Leadership Regional Training Young Leader Dompet Dhuafa pada 1 September 2019 lalu. Kegiatan ini  merupakan program kaderisasi pemimpin muda strategis dan berintegrasi sebagai upaya mewujudkan Indonesia berdaya.

“Kami berharap adanya peran pemerintah daerah dalam upaya pengembangan Tenocity agar program pemberdayaan ini dapat berjalan dengan baik sehingga  dapat menciptakan  kesejahteraan bagi wanita non produktif,” tutupnya. 

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

01 April 2020
01 April 2020
01 April 2020

Baca Juga

Berita Lainnya