trubus.id
Kementerian Pertanian Sebut AMR Masih Jadi Ancaman Kesehatan Hewan

Kementerian Pertanian Sebut AMR Masih Jadi Ancaman Kesehatan Hewan

Astri Sofyanti - Rabu, 20 Nov 2019 13:30 WIB

Trubus.id -- Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) masih menjadi ancaman terbesar kesehatan global. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut AMR tak hanya mengancam kesehatan manusia saja tapi juga kesehatan hewan. Tercatat 700.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat terinfeksi AMR. Selain itu, AMR juga menyebabkan banyak hewan ternak mati akibat tak mampu mengendalikan infeksi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) I Ketut Diarmita mengugkapkan bahwa antibiotik merupakan salah satu jenis antimikroba yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi bakteri pada manusia dan hewan.

“Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor peternakan, pertanian, dan perikanan serta di masyarakat mempercepat laju resistensi bakteri menjadi kebal (superbugs). Tanpa adanya upaya pengendalian global, AMR diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada tahun 2050, dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun, melampaui penyakit jantung, kanker dan diabetes, serta dapat menimbulkan krisis ekonomi global,” demikian dikatakan Ketut di Jakarta, Rabu (20/11).

Baca Lainnya : Kementan Tingkatkan Kesadaran Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba

Menurutnya, di sektor peternakan, ancaman AMR tidak hanya mengancam keberlangsungan kemampuan dalam mengendalikan penyakit infeksi pada ternak, akan tetapi juga sangat mengancam ketahanan pangan terutama produktivitas sektor peternakan dalam menyediakan sumber pangan hewani bagi masyarakat.

Pada Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia/ World Antibiotic Awareness Week (WAAW) yang berlangsung 18 November 2019 kemarin, Ditjen PKH bersama dengan FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) dan USAID Indonesia merangkai berbagai kegiatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, institusi akademisi dan sektor swasta di tiga kota yakni Bogor, Lampung, dan Surabaya.

"Tujuannya adalah untuk memperkuat kesadaran akan bahaya nyata dari AMR dan menyuarakan penggunaan antibiotik dan antimikroba lainnya secara bijak, cerdas dan bertanggung jawab," tambah Ketut.

Baca Lainnya : Pemakaian Antibiotik Serampangan pada Ternak dapat Mengancam Kesehatan Manusia

Pihaknya menambahkan bahwa tantangan dalam memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru harus dipandang sebagai kewajiban dan tanggung jawab semua pihak, untuk itu semuanya harus senantiasa berupaya meningkatkan kompetensi profesional dan selalu menjaga agar antimikroba tetap efektif.

Menanggapi hal tersebut, Team Leader FAO ECTAD James McGrane mengungkapkan bahwa pelaku usaha peternakan dan industri peternakan sangat berperan dalam solusi pengendalian laju resistensi antimikroba. Menurutnya Kementerian Pertanian bersama FAO ECTAD dengan dukungan USAID terus menggaungkan praktik-praktik peternakan yang baik (good farming practices) dan Infection Prevention and Control (IPC), dimana didalamnya terdapat implementasi biosekuriti 3 zona, vaksinasi secara regular, dan pola hidup bersih dan sehat.

"Hal ini menjadi solusi pengurangan penggunaan antimikroba di peternakan. Harapannya, dengan peternakan yang bersih dan terjaga, tercipta ternak yang sehat dan tidak mudah terkena penyakit,” ungkap James.

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

26 Jan 2020
26 Jan 2020
26 Jan 2020

Baca Juga

Berita Lainnya