trubus.id
Seperempat Populasi Babi di Dunia, Dapat Mati Karena Demam Babi Afrika

Seperempat Populasi Babi di Dunia, Dapat Mati Karena Demam Babi Afrika

Syahroni - Senin, 04 Nov 2019 22:30 WIB

Trubus.id -- Paling tidak seperempat populasi babi dunia bisa mati ketika wabah demam babi Afrika menyebar, kata organisasi kesehatan hewan global. Kematian itu akan memicu kekurangan babi secara global, melonjaknya harga daging babi dan produk yang bergantung pada hewan yang akan diproduksi, kata Mark Schipp, presiden World Organization for Animal Health.

"Saya tidak berpikir spesies itu akan hilang, tetapi itu adalah ancaman terbesar bagi pemeliharaan babi secara komersial yang pernah kami lihat. Dan itu ancaman terbesar bagi ternak komersial generasi kita," kata Schipp seperti dilansir dari Reuters.

Demam babi Afrika adalah penyakit karena virus yang dapat menyebar dengan cepat melalui kawanan babi, menurut Pusat Keamanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat di Iowa State University. Penyakit ini, bagaimanapun, tidak menimbulkan ancaman infeksi pada manusia.

Baca Lainnya : Atasi Flu Babi, Vietnam Musnahkan 1,7 Juta Ekor Babi

Virus itu menyebar melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, hidup atau mati, atau benda yang menyentuh hewan yang terinfeksi, dan tidak memiliki vaksin yang mumpuni, terang Organization for Animal Health.

Dalam setahun terakhir, penyakit ini telah mengguncang Cina, yang merupakan rumah bagi setengah dari populasi babi dunia, kata Schipp. Dampaknya, kondisi ini memicu krisis daging babi secara global dan melukai pasar babi Cina.

Afrika dan beberapa daerah di Eropa, Amerika Selatan dan Karibia secara historis telah menyaksikan sebagian besar wabah, tetapi penyakit ini telah menyebar dalam beberapa tahun terakhir di negara-negara di Asia dan Eropa, menurut Organization for Animal Health.

Sementara itu, Reuters juga memberitakan bahwa penyakit ini telah membunuh ratusan juta babi di 50 negara.

Baca Lainnya : Cegah Masuknya Virus Demam Babi Afrika, Korsel Perketat Daerah Perbatasan

"Risiko ada untuk semua negara, apakah mereka secara geografis dekat atau jauh secara geografis karena ada banyak sumber kontaminasi yang potensial," kata Direktur Jenderal Organization for Animal Health, Monique Eloit, kepada kantor berita Reuters.

Schipp juga mencatat kekhawatiran akan kontrol kualitas, terutama pada produk dengan kulit untuk sosis, salamis dan makanan serupa.

"Produk-produk casing itu bergerak melalui banyak negara. Mereka dibersihkan di satu, dinilai di yang lain, disortir di yang lain, sebagian dirawat di yang lain, dan akhirnya dirawat di negara keempat dari kelima. Mereka sangat sulit dilacak, melalui begitu banyak negara." katanya. 

Heparin pengencer darah, terbuat dari produk babi dan sebagian besar bersumber dari Cina, juga bisa menghadapi kekurangan, tambah Schipp. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

25 Feb 2020
25 Feb 2020
25 Feb 2020

Baca Juga

Berita Lainnya