trubus.id
Desa Wisata Layaknya Sebuah Produk, Warga Desa Harus Dilibatkan

Desa Wisata Layaknya Sebuah Produk, Warga Desa Harus Dilibatkan

Thomas Aquinus - Rabu, 30 Okt 2019 08:45 WIB

Trubus.id -- Pegiat desa wisata, Dewi Hutabarat menilai pembentukan sebuah desa wisata sama saja menjadikan desa sebagai sebuah produk. Menurutnya, tidak jarang membangun desa wisata tidak memikirkan dari perspektif desanya. "Apakah desanya mau dijadikan menjadi desa wisata", ujarnya.

Dalam diskusi mengenai desa wisata, peluang dan tantangan kemandirian desa di kantor Kemendes PDTT, Selasa (29/10), dirinya menyampaikan bahwa menjadikan sebuah desa menjadi lokasi desa wisata harus melibatkan masyarakat tentang keinginan warga mengenai konsep desa wisata di lingkungan tempat tinggalnya. 

"Saya menemukan dusun yang punya ide dengan pede ingin menjadikan tempat mereka sebagai kunjungan wisata. Dan tidak jarang sedikit mendapat dukungan. 
Disisi lain, promosi desa wisata gencar dilakukan namuan desanya sendiri belum mampu megelola tempat wisata", ujarnya. 

Baca Lainnya : Menteri Desa Dorong Nias Gunakan Dana Desa Kembangkan Desa Wisata

Menurutnya, contoh-contohnya sudah sangat banyak ditemukan di banyak tempat, desa wisata banyak dibangun oleh inisiatif dari desa sendiri yang tidak ingin menghancurkan desanya sendiri. 

"Yang ingin saya tekankan bicara tentang desa wisata harus ada orang dari desanya, untuk kroscek apakah desanya siap dijadikan desa wisata", ujarnya.

Dijelaskannya, ada juga yang menjadikan desa wisata sebagai bonus bukan sebagai tujuan utama. Salah satunya di Desa Munduk, Bali yang menjadikan wisata di desanya merupakan sebuah bonus.

"Bonus tersebut dampak dari menjaga lingkungan di desanya karena alamnya cantik dan pertanian dikelola baik, sumber air dijaga, kebersihan dijaga dan hasil pertanian sangat dijaga. Dan membangun tempat penginapan dimiliki oleh warga sendiri", kata Dewi.

Baca Lainnya : Desa Wisata Mampu Angkat 4 Kali Lipat Kesejahteraan Warga Dibanding Pertanian

Menurutnya jika hal tersebut sudah berjalan maka desa wisata bukanlah sesuatu yang mengancam dengan sampahnya yang menjadi banyak hingga wisatawan yang tidak terkendali. Untuk itulah dibutuhakan mempromosikan wisata di desa secara bijak. 

"Artinya pertimbangannya ada di teman-teman di desa. Itulah salah satu bentuk kemandirian, mereka juga punya keterampilan baru seperti hospitality industry kemudian jadinya mereka belajar juga how to do hospitality", ujarnya. 

Dirinya juga mengingatkan, bahwa di desa ada instrumen pengelolaan wisata di desa yang dapat bekerjasama dengan BUMDes. 

"Jika model ini bisa dikembangkan di satu desa, maka untuk satu kawasan sangat bisa dikembangkan. Elemen-elemen yang ada di desa selayaknya dimaksimalkan sebagai sentra penglolaan desa wisata dan pengembangan desa wisata", pungkasnya. [NN]


 


 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

30 Mar 2020
30 Mar 2020
30 Mar 2020

Baca Juga

Berita Lainnya