trubus.id
Waspada Bahaya Kebiasaan Menunduk Saat Menggunakan Gawai

Waspada Bahaya Kebiasaan Menunduk Saat Menggunakan Gawai

Hernawan Nugroho - Senin, 28 Okt 2019 13:30 WIB

Trubus.id -- Baca berita, melihat meme, menonton video lucu, hingga update media sosial membuat banyak orang betah berlama-lama memandangi gawai. Jika kebiasaan tersebut diikuti postur tubuh yang buruk, seperti menunduk atau membungkuk saat menggunakan gawai atau gadget, ada dampak buruk yang harus diwaspadai.

Kebiasaan tersebut rupanya bukan hal baru di masyarakat. Menurut Health, dalam studi yang dilakukan pada tahun 2014, dikemukakan bahwa orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu untuk menggunakan gawai lebih dari 3,5 jam atau 210 menit setiap harinya. Kala itu, bahkan Indonesia pernah dinobatkan sebagai populasi yang paling kecanduan menggunakan gawai.

Baca Lainnya : Melototi Ponsel 20 Jam Nonstop, Otak Perempuan Ini Berdarah-Darah

Efek buruk berlama-lama main gawai yang dikombinasikan dengan postur tubuh yang buruk seperti menghabiskan 3,5 jam atau lebih setiap harinya di depan layar ponsel, laptop, atau tablet dapat menyebabkan nyeri leher yang parah. Kondisi ini, menurut para peneliti di Harvard Medical Health, diperkirakan terjadi setidaknya sekali selama hidup pada 7 dari 10 orang.

Kondisi ini juga dikenal dengan neck text syndrome, yaitu penyakit yang terjadi karena penggunaan otot di leher, bahu, dan punggung yang berlebihan. Hal ini bisa terjadi akibat posisi menunduk terus-menerus, yang dilakukan dalam jangka waktu lama. Gejalanya berupa:

  1. Pegal di leher atau punggung bagian atas, terutama saat menggunakan gawai.
  2. Nyeri seperti ditusuk-tusuk di daerah leher dan bahu, terutama menjelang tidur di malam hari.
  3. Rasa kaku di bahu.
  4. Sakit kepala hilang timbul, yang dirasakan terutama saat menggunakan gawai.

Selain menyebabkan ketidaknyamanan, kondisi ini juga dapat menyebabkan peradangan sendi dan terjepitnya saraf di daerah leher bila tidak segera diobati. Saat seseorang menunduk, yang terjadi dalam tubuh adalah penekanan dan pengencangan otot, tendon, dan struktur ligamen di depan leher sambil memperpanjang otot, tendon, dan struktur ligamen di belakang leher.

(Foto: shutterstck)

Kepala manusia sendiri memiliki berat sekitar 5 kg. Sedikit saja kepala dimajukan atau dimundurkan, leher yang menopangnya akan menerima beban lebih. Setiap 2,5 cm kepala bergerak ke depan (keluar dari garis tubuh), akan menambah 4,5 kg beban yang diberikan terhadap bahu. Misalnya, jika kepala berada 5 cm di luar garis tubuh saat menggunakan gawai, hal tersebut setara dengan beban seorang anak yang duduk di bahu Anda.

Apabila kebiasaan menunduk ini dilakukan dalam durasi lama dan rutin setiap hari, nyeri leher dapat dirasakan. Selain nyeri leher, gangguan kesehatan lain seperti mata tegang dan sakit pada pergelangan tangan akibat carpal tunnel syndrome (CTS) atau sindrom lorong karpal juga bisa dirasakan. Sindrom lorong karpal adalah masalah neuropati yang menimbulkan sensasi kesemutan di tangan. Biasanya, sindrom ini menyerang bagian pergelangan dan jari-jari tangan.

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

07 Agu 2020
04 Agu 2020
03 Agu 2020