trubus.id
Travel » Tradisi Dayak Ngaju, Eksotik dan Sarat Filosofi
Tradisi Dayak Ngaju, Eksotik dan Sarat Filosofi

Tradisi Dayak Ngaju, Eksotik dan Sarat Filosofi

Hernawan Nugroho - Jumat, 25 Okt 2019 20:00 WIB

Trubus.id -- Indonesia terkenal dengan keragaman suku bangsanya. Salah satunya adalah suku Dayak. Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Seruyan.

Menurut Borneo News, leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian selatan, tepatnya di Tiongkok Barat Laut berbatasan dengan Vietnam. Mereka bermigrasi besar-besaran sekitar tahun 3.000 - 1.500 Sebelum Masehi. Kini Dayak Ngaju menjadi subetnis terbesar di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan dunia modern, mereka masih menjaga nilai dan tradisi ajaran leluhur mereka.

Baca Lainnya : Potensi Wisata Budaya dari Kalimantan Timur, Lokasi Ibu Kota yang Baru

1. Kepercayaan Kaharingan
Ciri khas Suku Dayak Ngaju adalah hingga sekarang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Kaharingan mempunyai makna tumbuh atau hidup, sehingga kepercayaan Kaharingan adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan.

2. Upacara Tiwah
Selain itu, Suku Dayak Ngaju juga melakukan upacara tiwah. Upacara ini merupakan sebuah proses mengantarkan arwah atau roh leluhur ke surga melalui Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, artinya sebuah tempat yang kekal dan abadi. Suku ini meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan.

(foto: BorneoNews)

3. Tradisi Tato
Sama halnya dengan suku-suku Dayak lainnya di Pulau Kalimantan, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai tradisi bertato. Baik laki-laki maupun perempuan, masyarakat Dayak Ngaju menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut, atau leher. Selain sebagai simbol status, tato Dayak juga merupakan sebuah identitas. Menato tubuh ini diyakini bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka di surga.

4. Pakaian Adat, Merah dan Burung Enggang
Pakaian adat Suku Dayak Ngaju juga mempunyai ciri khas tersendiri. Suku ini menggunakan pakaian adat yang didominasi warna merah dan kuning. Warna-warna ini diperoleh dari pewarna alam dari hutan. Suku Dayak Ngaju juga menggunakan kain atau rompi yang terbuat dari kulit kayu yang disebut kulit nyamu, yang kemudian diperindah menggunakan hiasan kepala dari bulu burung enggang dan ruai.

Baca Lainnya : Eksotisme Bukit Matang Kaladan di Kalimantan Selatan

5. Hukum Adat dan Keselarasan Alam
Sejak dahulu hingga sekarang, orang Dayak Ngaju terkenal dengan hukum adat mereka. Terutama berkaitan dengan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam atau hutan. Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Jika tidak melaksanakan hukum adat, Suku Dayak Ngaju yakin leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam seperti banjir.

Editor : System

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020