trubus.id
Annisa Hasanah Kampanyekan Lingkungan Melalui Bisnis Sosial Permainan Econofunpoly

Annisa Hasanah Kampanyekan Lingkungan Melalui Bisnis Sosial Permainan Econofunpoly

Thomas Aquinus - Kamis, 10 Okt 2019 20:00 WIB

Trubus.id -- Berawal dari keprihatinan dirinya tentang isu lingkungan, Annisa Hasanah, wanita kelahiran tahun 1989, menggagas papan permainan interaktif berbasis monopoly, Ecofunopoly. 

Ditemui Trubus.id di acara ARISE di Jakarta Design Center, Kamis (10/10) Ide awal wanita Jurusan Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu berawal dari keinginannya untuk mengenalkan lingkungan hidup pada anak-anak sekolah dipertengahan tahun 2009. Hingga pada tahun 2016 dirinya mulai terjun ke dalam dunia bisnis.

Dikatakan Annisa, awalnya Ecofunopoly lahir berdasarkan pengalamannya saat kuliah yang melihat belum adanya media pembelajaran yang menarik kepada anak-anak di sekolah mengenai isu lingkungan. 

“Saya melihat ada yang missing, banyak kegiatan tapi kadang semua hanya terbentur pada gambar bareng, games yang kucing-kucingan. Disitu saya mikir mana yang benar-benar ada suatu media yang mereka learning something isu lingkungan,” ujarnya. 

Baca Lainnya : Dari Permainan Edukasi Menjadi Kenyataan di Kampung Zimba

Menjawab permasalah tersebut, Annisa akhirnya mewujudkan rasa penasarannya dengan membuat   permainan monopoly dengan mindsetnya isu lingkungan.

“Akhirnya, lahirlah ecofunopoly, yang pada awal ide muncul masih social movement aja. Jadi artinya kita bikin game ini terus bermain sama anak-anak. Waktu itu kita engga ada tujuan bisnis,” ujarnya. 

Sukses permainan ecofunopoly diakui Annisa memikat ketertarikan beberapa lembaga yang memberikan penghargaan, tidak terkecuali salah satu bank yang memberikan dana hibah dengan syarat harus digunakan untuk bisnis dari karya yang dibuatnya. 

“Dari situ kita mulai bisnis kecil-kecilan kita jual, tapi officialy jadi benar-benar legal bisnis tahun 2016, akhirnya game-game ini jadi produksi bisnis,” ujarnya.

“Saya ikut program Instellar ini juga jadi program saya buat lebih memperbaiki bisnisnya marketing, banyak banget yang perlu dipelajari tapi pada kesempatan yang sama kita kembangin game-game seri terbaru, mungkin dulu baru kembangin satu tema, sekarang ada delapan seperti seri emisi karbon, seri sampah, seri siaga bencana banjir, ada seri kebakaran hutan,” tambahnya menjelaskan.

Baca Lainnya : Membangkitkan Pelaku Usaha Kecil Makanan Tradisional Melalui Kampung Zimba

Untuk konten tema permainan, Annisa mengakui tidak sembarang sekedar googling tetapi melakukan riset. “Kita pakai hasil riset juga sih, jadi kadang kalau ada rekan saya yang riset tentang karbon saya ambil refrensi untuk perbaiki konten,” katanya.

Dengan mengikuti Instellar, Annisa mengakui mendapatkan banyak ilmu seperti marketing, finance yang bisa mengarahkan kita lebih jelas mau kearah mana bisnisnya dan lebih realistis. 

“Kita diingatkan lagi mencoba lebih balance tapi jangan lupa kalau kita juga harus mencari keuntungan karena sampai sekarang masih banyak tantangannya,” ujarnya.

Menurutnya, bisnis dengan sebuah misi sangat jauh berbeda, “Jadi dengan ikut programnya Instellar jadi tahu lebih ngarahin,” katanya singkat.

Dalam perkembangannya, diakui Annisa, Ecofunopoly tidak hanya digemari oleh anak-anak saja melainkan orang dewasa juga menikmati permainan tersebut.

Baca Lainnya : Kuningan Kreatif, Gaya Mandiri Anak Muda Milenial dalam Membangun Kampung

“Nah, menariknya sebenarnya kita bikin game itu untuk anak-anak, tapi akhirnya klien kita dari yang pesertanya cleaning service kocak, justru seru banget,” ujar Annisa yang percaya education itu long life learning.

Dengan perubahan besar sejak awal munculnya ecofunopoly, sebagai social entrepreneur, Annisa mengakui perubahan tersebut membuatnya terus berkembang yang membawa hinnga permainannya dapat dinikmati oleh banyak orang walaupun diakuinya tantangannya tidak mudah.

“Jadi kita memang lagi di challange untuk tadi ada unsur funnya tapi tidak lepas edukasinya yang terkesan bosan,” pungkasnya. [NN]


 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

13 Agu 2020
07 Agu 2020
04 Agu 2020