trubus.id
Siput Raksasa Afrika Invasi Kuba, Ancam Sektor Pertanian dan Kesehatan Warga

Siput Raksasa Afrika Invasi Kuba, Ancam Sektor Pertanian dan Kesehatan Warga

Syahroni - Selasa, 01 Okt 2019 20:30 WIB

Trubus.id -- Diam-diam dan tanpa jeda, seperti gerilyawan perang, siput raksasa Afrika telah menyerang Kuba. Dengan cangkang dan tubuh mereka yang berkilau dan ukurannya yang bisa mencapai 20 sentimeter, siput ini telah menjadi musuh publik No. 1 bagi para ahli epidemiologi. Warga sendiri kini mulai takut akan kemampuan mereka untuk menularkan penyakit dan merusak tanaman.

"Saya belum pernah mendengar tentang mereka sebelumnya, tetapi sekarang mereka ada di mana-mana," kata Yusmila Marín, seorang perawat berusia 29 tahun yang tinggal di lingkungan yang penuh dengan moluska dengan nama ilmiah Achatina fulica ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Kuba telah mengaktifkan sistem pertahanan sipil nasional untuk memerangi siput ini. Tetapi beberapa mengatakan respon negara tidak memadai.

Marín dan keluarga di lingkungan Villa Panamericana menjaga anak-anak di dalam ruangan untuk bermain karena bahaya infeksi dari siput, yang dapat menularkan infeksi otak yang berpotensi parah yang disebut meningoensefalitis dan penyakit perut yang dikenal sebagai angiostrongiliasis.

Pertama kali terdeteksi di Kuba pada tahun 2014, siput sekarang dapat ditemukan di seluruh Havana dan di hampir setiap provinsi di pulau itu. Tidak diketahui bagaimana siput itu tiba di negara ini.

Siput ini juga ditemukan di negara-negara di seluruh dunia, di mana ia memiliki efek destruktif yang serupa.

Otoritas kesehatan telah meminta orang untuk mengumpulkan siput tanpa menyentuh mereka dengan tangan kosong dan kemudian menghancurkannya dalam wadah tertutup. Tetapi mereka masih mengatakan akan butuh waktu untuk mengendalikan serangan itu.

Siput tidak memiliki predator alami di Kuba dan makan buah-buahan, sayuran, dan bahkan sampah, yang memungkinkannya berkembang biak dengan cepat.

"Ini masalah kesehatan, masalah ekonomi dan masalah ekologis," kata Isbel Díaz, seorang ahli biologi yang mengelola kelompok lingkungan non-pemerintah di Havana seperti dilansir dari phsy.org, Selasa (1/10).

Díaz mengatakan, banyak orang melakukan yang terbaik untuk membantu, tetapi tanpa pelatihan yang tepat atau peralatan yang memadai, upaya mengumpulkan atau menghancurkan siput dengan aman semakin sulit dilakukan.

"Ini tantangan nyata, Tidak ada negara yang mampu mengendalikan wabah ini dan Kuba tidak akan mampu dalam jangka pendek atau menengah," katanya. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020