trubus.id
Life » Mitos Khasiat Cula dan Gigi, Penyebab Nyaris Punah...
Mitos Khasiat Cula dan Gigi, Penyebab Nyaris Punahnya Badak Sumatera

Mitos Khasiat Cula dan Gigi, Penyebab Nyaris Punahnya Badak Sumatera

Hernawan Nugroho - Senin, 23 Sept 2019 13:30 WIB

Trubus.id -- Barang langka kerap menjadi incaran karena memiliki nilai tinggi dari sisi estetika hingga ekonomis. Ini juga berlaku bagi satwa langka, badak sumatera yang populasinya terus menciut. Laman TFCASumatera menyebutkan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencatat populasi badak sumatera ini di alam liar hanya tersisa 15 ekor saja, sementara di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tidak lebih dari 24 ekor. Menyusutnya populasi satwa soliter yang tergolong sulit berkembang biak itu, dihantam dengan maraknya perburuan dan perdagangan satwa bercula ini.

Baca Lainnya : Ilmuwan Berhasil Ciptakan Embrio untuk Selamatkan Badak Putih Utara dari Kepunahan

Seluruh bagian satwa langka badak ini memiliki nilai jual hingga ratusan juta rupiah di pasar gelap perdagangan satwa. Tidak heran, hewan bercula ini menjadi buruan para pemburu dengan motivasi ekonomis, nilai jual yang tinggi.

Teranyar, Polda Lampung bersama petugas TNBBS menangkap jaringan perdagangan cula badak di Wisma Selalaw, Pesisir Barat. Dari pengungkapan kasus tersebut diamankan barang bukti berupa cula badak sumatera dengan berat kurang lebih 200 gram.

Dari lima orang yang diamankan, dua di antaranya ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan UU RI No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelanggarannya diancam pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda Rp200 juta. Juga disinyalir ada keterlibatan oknum aparat dalam perdagangan haram satwa liar tersebut.

Beberapa bagian tubuh badak, seperti kuku, gigi, hingga culanya memiliki nilai jual tinggi lantaran diyakini sejumlah kalangan memiliki khasiat kesehatan dan keperkasaan kaum Adam. Selain itu, memiliki bagian tubuh dari badak dipercaya menambah kepercayaan diri si pemakainya. Mitos itu terus dipelihara para pedagang satwa di pasar gelap tidak hanya lokal, tetapi juga tingkat dunia.

Padahal, hasil riset peneliti badak, di College of Osteopathic Medicine, Ohio University, menyatakan bagian tubuh badak, terutama culanya, hanyalah mengandung keratin, materi yang juga ada pada rambut dan kuku manusia. Selain itu, kandungan kalsium serta melanin.

Baca Lainnya : Kematian Badak Sumatera di Malaysia Menjadikan Indonesia Kehilangan Harapan

Mengingat populasi hewan langka yang terus menyusut, bukan hanya badak melainkan juga harimau, gajah, dan lainnya, aparat penegak hukum harus tegas membekuk para pelaku perdagangan bebas, termasuk oknum aparat yang terlibat tanpa pandang bulu. Jalur hukum harus ditegakkan untuk memberi efek jera para pelaku perburuan dan perdagangan satwa. Selain itu, edukasi soal mitos khasiat bagian tubuh satwa ini perlu disebarkan ke masyarakat luas, terutama hasil penelitian para ahli.

Persoalan menjaga populasi satwa bukan persoalan remeh temeh. Hal ini merupakan upaya pelestarian sekaligus memberikan keseimbangan ekosistem yang dampaknya berpulang kepada manusia pula. Kita harus melindungi badak dari mitos sesat menyesatkan. [NN]

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020