trubus.id
BMKG: 673 Kali Gempa Bumi Guncang Indonesia Selama Agustus 2019

BMKG: 673 Kali Gempa Bumi Guncang Indonesia Selama Agustus 2019

Astri Sofyanti - Jumat, 30 Agu 2019 18:30 WIB

Trubus.id -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan terkait aktivitas gempa bumi di Indonesia selama bulan Agustus 2019. Berdasarkan hasil monitoring BMKG pada Agustus 2019, terjadi gempa tektonik sebanyak 673 kali gempa. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan bahwa jumlah tersebut turun pada bulan Juli yang mencapai 841 kali gempa bumi.

“Gempa-gempa tersebut pada bulan Agustus didominasi oleh gempa kecil berkekuatan magnitudo 5,1 sebanyak 651 kali. Kemudian gempa signifikan yang kekuatannya diatas magnitudo 5,0 (M=5,0) terjadi sebanyak 22 kali. Ini juga mengalami penurunan, karena bulan sebelumnya terjadi sebanyak 52 kali,” kata Daryono ketika melakukan konferensi pers terkait update bencana selama Agustus di Graha BNPB, Pramuka, Jakarta Timur, Jumat (30/8/19).

Sementara itu lanjut Daryono, gempa bumi dirasakan selama bulan Agustus selama 56 kali. Jumlah tersebut juga menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 84 kali. Sedangkan untuk gempa yang merusak pada Agustus terjadi sebanyak empat kali yaitu pertama Gempa Selatan Banten yang terjadi 2 Agustus 2019 dengan kekuatan magnitudo 6,9 (M=6,9) sekira pukul 19:03 WIB.

“Gempa tersebut sempat mengeluarkan potensi tsunami. Gempa ini mengakibatkan kerusakan 7 unit rumah yang tersebar di Kabupaten Cianjur, Bandung Barat, dan Sukabumi,” ucapnya.

Dikatakan Daryono, gempa merusak pada posisi ke dua adalah gempa bumi Banyuwangi, yang berpusat di Samudera Hindia pada 12 Agustus dengan kekuatan magnitudo 5,0 (M=5,0). Gempa tersebut mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak ringan.

Kemudian lanjut Daryono, gempa yang merusak ketiga adalah gempa swarm di Kaki Gunung Salak pada, 23 Agustus 2019 berkekuatan magnitudo 4,0 (M=4,0). Meski kekuatannya hanya 4,0, tapi karena sangat dangkal sehingga merusak beberapa rumah di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

“Yang menarik adalah aktivitas swarm di Kaki Gunung Salak ini. Gempa swarm adalah rentetan aktivitas gempa bumi berkekuatan kecil yang terus menerus terjadi di dalam wilayah yang sangat lokal dengan frekuansi kejadian tinggi dan tidak ada magnitudo yang dominan. Jika kita mengacu pada teori dari seorang ahli gempa Jepang, ada tiga tipe gempa pertama adalah gempa yang didahului gempa pendahuluan, kemudian terjadi gempa utama dan gempa susulan; tipe kedua tiba-tiba terjadi gempa utama (mainshock) kemudian dilanjutkan gempa susulan; dan yang ketiga adalah tipe swarm, tipe ini frekuensinya tinggi tapi tidak ada magnitudo dominan. Namun kita juga patut waspada karena sering terjadi goncangan tersebut mengakibatkan struktur bangunan menjadi lemah dan bisa menimbulkan kerusakan. Ini terjadi pada 23 Agustus lalu di Bogor,” ungkapnya.
Sementara itu, ke tiga, pada tanggal 3 Agustus juga terjadi gempa Swarm di Madiun. Pada tanggal tersebut satu hari terjadi 19 kali gempa. Sedangkan yang ke empat yakni gempa swarm yang terjadi di Gunung Salak pada 10 sampai 28 Agustus 2019. Dalam kurun waktu tersebut terjadi gempa lebih dari 84 kali.

“Terkait dengan gempa di Selatan Banten pada 2 Agustus lalu, itu adalah gempa yang terjadi di dalam lempeng Samudera Indo-Australia menimbulkan spectrum guncangan yang sangat luas dari Bengkulu sampai Sumbawa dan menimbulkan kerusakan beberapa rumah di Jawa Barat dan Banten. Saya sampaikan kepada masyarakat bahwa ini adalah alarm yang mengingatkan kita zona gempa di selatan Pulau Jawa itu sangat aktif. Suatu saat nanti bisa jadi kita akan menjumpai gempa yang lebih besar dari itu. Karena kalau kita melihat sejarahnya, di selatan jawa zonamika thrush mengalami beberapa kali gempa kuat di atas 7,7, bahkan mencapai magnitudo 8,3, seperti tahun 1903,” pungkasnya.

Editor : Syahroni

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020