trubus.id
Produksi Beras di Luar Negeri, Kenapa Tidak? Simak Penjelasan Bayu Krisnamurthi

Produksi Beras di Luar Negeri, Kenapa Tidak? Simak Penjelasan Bayu Krisnamurthi

Astri Sofyanti - Rabu, 28 Agu 2019 13:00 WIB

Trubus.id -- Wakil Menteri Perdagangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekaligus Dosen di Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) memandang swasembada beras sebagai core political position untuk beras. Untuk itu, pihaknya mendorong enterpreneur muda untuk berani membuka lahan pertanian di luar negeri.

"Apakah kita masih memandang ini sebagai prinsip yang tak boleh digoyangkan? Kalau kita tak sadar melihat prinsip startegi ini, maka yang lain akan sulit," kata Bayu dalam Food Security Forum yang mengusung tema “Mengindentifikasi Perubahan yang Diperlukan dalam Rantai Distribusi Beras Indonesia” di Hotel Mandarin, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/19).

Lebih lanjut Bayu mengungkapkan bahwa Indonesia dibangun dengan kondisi kelaparan pada 1945. Pada 1952, Presiden RI Soekarno mengatakan bahwa pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa. Sementara Presiden RI ke dua yakni Soeharto mengatakan bahwa Indonesia akan swasembada beras.

"Saya ingin tawarkan new swasembada atau smart swasembada. Bagaimana kalau kita impor padi di Burma, tapi itu punya kita. Mengapa kita tidak mengakuisisi beras di Vietnam sehingga kita jadi pemain terbesar, kita atur perdagangannya,” tegas Bayu.

Selain itu, dirinya pun juga mengakui, konsep swasembada pangan tidak bisa ditinggalkan, tidak bisa diganggu gugat. Tapi diperlukan konsep baru. "Apa iya kita mengatakan harus tidak ada impor," lanjutnya.

Bayu menilai, mengapa kita (Indonesia, Red) tidak mengakuisisi beras di Vietnam, sehingga kita jadi pemain terbesar. Oleh karena itu Bayu mengatakan sudah saatnya kita harus melakukan smart swasembada. "Jangan cuma indoktriner saja. Kita harus menjaga kedaulatan pangan. Kita bantu Perpadi untuk mengembangkan usahanya di luar negeri. Harus ada Dirjen Penanama Modal Indonesia di luar negeri," paparnya lagi.

Menurutnya hal ini perlu dilakukan karena sebagai negara tropis Indonesia akan terus memiliki risiko menghadapi sejumlah masalah seperti hama dan penyakit. "Indonesia itu negara tropis akan banyak hama dan penyakit akan banyak kendala, sehingga perlu memiliki cadangan pasokan. Kalau di negara empat musim ada musim dingin, saat musim dingin seluruh hama dan penyakit akan mati," tegasnya.

Diakui Bayu, konsep ini perlu dilakukan mengingat daya dukung Pulau Jawa sebagai lumbung beras nasional terus menurun. Sementara dari sisi biaya melakukan intensifikasi lahan juga dinilai akan sangat memberatkan, sehingga konsep smart swasembada ini membutuhkan biaya yang efisien.

“Tak selamanya tanah dan air di Pulau Jawa mampu memproduksi beras secara terus menerus. Pasalnya jika digunakan secara terus menerus, kesuburan tanah dan pasokan air berkurang. Apakah worth it jika kita menghabiskan tanah dan air kita sendiri untuk memproduksi sesuatu yang sebetulnya bisa kita carikan cara yang lain," ungkap Bayu.

“Yang jelas kita punya kesempatan untuk menjaga tanah dan air kita dengan lebih baik. Jawa yang jadi lumbung pangan kita sudah stress,” sambungnya.

Oleh karena itu, ia mendukung pemerintah untuk mengubah konsep swasembada yang selama ini diterapkan menjadi smart swasembada. Ia meyakini dengan menjalankan konsep smart swasemda, selain tidak merusak sumber daya alam negeri ini juga untuk mendorong enterpreneur muda untuk mengembangkan usaha di luar negeri.

“Kita harus dorong entrepreneur muda, juga pengusaha yang sudah mapan untuk melihat peluang-peluang ini. Kalau tidak bisa mulai bertanam, mungkin jadi trader, jual beli internasional dulu,” katanya.

Diakui Bayu, konsep ini juga bisa diterapkan untuk swasembada daging sapi dengan memiliki peternakan di Australia. Pasalnya kondisi alam di Australia memungkinkan mendukung produktivitasnya.

Hal serupa juga bisa dilakukan untuk kedelai, dengan cara membeli saham perusahaan pertanian yang memproduksi kedelai. “Kita punya kesulitan produksi kedelai, kenapa tidak kita punya saham di perusahaan pertanian di Amerika, kita beli saja sahamnya, dan kita impor kedelai milik kita sendiri,” pungkasnya.

Editor : Syahroni

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020