trubus.id
Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Hutan Gambut Berpotensi jadi Ancaman

Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Hutan Gambut Berpotensi jadi Ancaman

Astri Sofyanti - Selasa, 28 Mei 2019 18:00 WIB

Trubus.id -- Rencana pemindahan ibu kota negara terus dimatangkan. Beberapa alternatif lokasi baru pun bermunculan. Namun yang pasti, menurut dari hasil Rapat Terbatas (Ratas) yang digelar baru-baru ini di Istana Negara, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menyetujui untuk memindahkan ibu kota ke luar Pulau Jawa.

Pulau Kalimantan lah yang kini jadi sorotan. Kalimantan jadi kandidat besar lokasi ibu kota yang baru karena dinilai relatif aman dari bencana dibandingkan wilayah lainnya.

Namun begitu, bukan berarti tidak ada ancaman jika ibu kota negara ditempatkan di Kalimantan. Ancaman yang datang dari lahan gambut salah satu contohnya. Seperti diketahui, wilayah Kalimantan dikelilingi oleh hutan gambut. Menurut Plt. Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joeni Setijo Rahajoe, total luas hutan gambut di Kalimantan saat ini mencapai 3,1 - 6,3 juta hektare.

Baca Lainnya : Ribuan Sesar Aktif Ancam Jakarta, Kalimantan Lebih Aman Dijadikan Ibu Kota

Dengan luas lahan gambut sebanyak itu, serta sifatnya yang mudah terbakar, lahan gambut tentu menimbulkan ancaman tersendiri. Untuk itu, pemerintah dinilai perlu bekerja keras menghadapi potensi tersebut.

“Hutan gambut terbentuk di daerah yang selalu terendam air sehingga proses dekomposisi lambat, menyebabkan terbentuknya bahan organik yang merupakan penyusun utama hutan gambut. Tercatat lebih dari 65 persen penyusun gambut adalah bahan organik, hutan ini selalu tergenang air dan dalam kondisi an-aerob jadi aman. Tapi begitu terbuka akan cepat terbakar ini yang menjadi ancaman,” kata Joeni ketika ditemui Trubus.id di Kantor Pusat LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (28/5).

Baca Lainnya : Ibu Kota Baru, Kalimantan Punya Riwayat Gempa Signifikan

Joeni menambahkan, sebaran ekosistem gambut paling luas di Kalimantan berada di Kabupaten Katingan yaitu seluas 8.255,82 hektare (29,67 persen). Adapun sebaran cukup signifikan berikutnya berada di Kabupaten Kapuas (3.907,55 hektare), Pulangpisau (3.265,64 hektare), dan Kotawaringin Timur (3.028,62 hektare).

Lebih lanjut Joeni mengatakan, hutan gambut merupakan tipe ekosistem yang rentan dan wajib dijaga supaya tidak terjadi kebakaran apabila ibu kota akan dipindahkan ke Kalimantan. Selain itu, dirinya mengakui jika hutan gambut menyimpan karbon terbesar yang memiliki peranan dalam menentukan besar kecilnya emisi karbon setiap tahun.

“Sehingga perlu adanya upaya untuk menciptakan lingkungan yang sehat dengan cara mengurangi emisi. Pengurangan emisi dilakukan dengan menurunkan lajunya, seperti mengelola hutan dengan konsep berkelanjutan, merehabiliasi lahan yang terdegradasi, serta melakukan restorasi lahan gambut di sekitar lokasi jika nantinya menjadi ibu kota,” ungkap Joeni. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020