trubus.id
Waspada, Belimbing Bersifat Mematikan untuk Orang Berpenyakit Ginjal

Waspada, Belimbing Bersifat Mematikan untuk Orang Berpenyakit Ginjal

Syahroni - Sabtu, 18 Mei 2019 16:00 WIB

Trubus.id -- Untuk sebagian masyarakat Indonesia, nama belimbing mungkin sudah tak asing di telinga. Yah, buah ini memang banyak ditemukan di wilayah tropis seperti di negara ini. Konsumsi buah belimbing di berbagai wilayah juga cukup tinggi.

Namun demikian, buah yang memiliki cita rasa manis dengan sedikit cuatan asam yang menyegarkan ini ternyata diam-diam bersifat mematikan juga loh.

Dikutip dari Elitereaders.com, studi menunjukkan bahwa mengonsumsi belimbing dapat memicu efek berbahaya (toksik) bagi orang yang memiliki penyakit ginjal. Zat yang ditemukan dalam belimbing dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan gangguan neurologis. Zat beracun ini disebut neurotoxin.

Baca Lainnya : Waspadai, Konsumsi Belimbing, Overdosis Bisa Berbahaya

Orang dengan ginjal yang sehat dan normal dapat memproses dan mengeluarkan racun ini dari tubuh mereka. Namun, bagi mereka yang menderita penyakit ginjal, hal ini tidak mungkin. Karenannya, racun tersebut tetap berada di dalam tubuh dan menyebabkan penyakit serius.

Adapun, gejala keracunan buah belimbing meliputi cegukan, linglung, kejang-kejang, dan bahkan kematian untuk kasus serius. Pada tingkat kritis, toksin belimbing diketahui bisa menumpuk dan masuk ke otak, merusak sebagian besar sistem neurotiknya.

Penyebab toksin belimbing bisa masuk ke otak ditemukan dari hasil peneliian oleh ilmuwan di São Paulo University, Brasil. Untuk melakukan ini, para ilmuwan yang dipimpin oleh Norberto Garcia-Cairasco dan Norberto P. Lopes membuat model keracunan buah belimbing pada hewan.

Baca Lainnya : Belimbing Mentah Itu Beracun, Mitos atau Fakta?

Mereka memberikan ekstrak kasar belimbing kepada hewan dengan penyakit ginjal eksperimental (untuk meniru konsumsi pasien), atau menyuntikkan ekstrak belimbing ke otak tikus sehat, lalu hasilnya menginduksi gejala kejang dan elektrografis khas keracunan buah belimbing.

Ekstrak tersebut difraksinasi melalui prosedur kromatografi dan masing-masing fraksi individu diuji aktivitasnya. Fraksi aktif kemudian dipisahkan secara kromatografi dan diuji lagi. Proses ini diulangi sampai zat tunggal yang bertanggung jawab atas kejang diisolasi. Para peneliti menamainya karamboksin.

Tes lebih lanjut mengungkapkan bahwa karamboksinn bekerja pada reseptor AMPA dan kainate, dua reseptor neurotransmitter penting yang dikendalikan oleh glutamat dari sistem saraf pusat. Hal ini menyebabkan hipereksitabilitas di otak, yang kemudian memicu kejang-kejang. [RN]

 

Editor : Syahroni

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020