trubus.id
Kusta Masih 'Merongrong' Jawa Timur, Jumlah Penderita di Madura Tertinggi

Kusta Masih 'Merongrong' Jawa Timur, Jumlah Penderita di Madura Tertinggi

Binsar Marulitua - Jumat, 08 Feb 2019 21:00 WIB

Trubus.id -- Penyakit  infeksi pada saraf dan kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae (kusta) masih menjadi hantu yang 'merongrong' sebagian wilayah Indonesia. Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat, terdapat 2.610 penderita di kawasan administratifnya terhitung sampai tanggal 11 Januari 2019.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Timur, Setya Budiono mengatakan, penderita kusta di Jawa Timur paling banyak berada Madura dengan rincian 381 orang di Sumenep, 232 orang di Sampang dan 207 orang di Bangkalan.

Selain itu penderita kusta juga ditemui di Pasuruan (193 orang), Kabupaten Lumajang (171 orang), Probolinggo (125 orang), Tuban (92 orang) dan Pamekasan (65 orang).

Baca Lainnya : Penyakit Kusta Masih Mengancam Indonesia

"Status penderita kusta di Jatim sudah berstatus eliminasi provinsi. Artinya kasus pravalensinya kurang dari 1/10.000 penduduk, di Jatim sudah 0,9 persen," kata Setya di Surabaya, Jumat (8/2).

Ia mengemukakan bahwa Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi jumlah penderita penyakit kusta, antara lain lewat upaya penemuan dini kasus, dan pengobatan serta penghapusan stigma pada pasien kusta.

"Kita mencanangkan program namanya Jelita (Jatim Eliminasi Kusta) dan itu sudah tercapai. Jelita ini strategi yang digunakan Dinkes Jatim disebut dengan Score (Sosialisasi, Cari, Obati, Rehabilitasi dan Evaluasi)," kata Setya.

Selain itu, Setya menjelaskan, dalam program Jelita setiap kabupaten yang jumlah penderita kustanya tinggi harus menjalankan upaya penemuan yang disebut Intensif Case Finding (ICF), yang mencakup pemeriksaan minimal 25 orang di area yang memiliki penderita kusta.

"Biasanya kalau ada yang sakit kusta di sekitarnya akan ada, karena penularan melalui kontak erat," katanya.

Bila tidak segera ditangani, kusta bisa menjadi sangat progresif dan mengakibatkan kerusakan kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Namun penyakit ini tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh dengan mudah sebagaimana mitos yang beredar dalam masyarakat.

Baca Lainnya : Penyakit Kusta Mulai Hantui Timika Papua

Gejala penyakit kusta antara lain keberadaan bercak putih atau merah di kulit yang tidak gatal, tidak nyeri, tetapi ba'al (kurang rasa atau mati rasa). Bercak seringkali ditemukan di bagian siku karena ada syaraf yang dekat dengan permukaan kulit, ada pula bercak yang ditemukan di sekitar tulang pipi (wajah), telinga, atau bahu (badan).

Selain itu, ada penderita yang menunjukkan gejala berupa bintil kemerahan yang tersebar, ada pula yang gejalanya kulit sangat kering (tidak berkeringat) dan rambut alis rontok sebagian/seluruhnya.

Sebagian besar penderita pada awalnya tidak merasa terganggu sehingga cenderung mengabaikannya. Namun kadang gejala disertai kesemutan, nyeri sendi dan demam hilang timbul, bila mengalami reaksi.

Bila ditemukan dan diobati sejak dini, penyakit kusta bisa sembuh dan tidak menimbulkan kecacatan. Penemuan kasus dan pengobatan dini menjadi satu-satunya cara yang paling efektif untuk memutus rantai penularan penyakit ini. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

26 Jan 2020
26 Jan 2020
26 Jan 2020

Baca Juga

Berita Lainnya