trubus.id
Life » Ditemukan 157 Spesies Baru di Asia Tenggara, Apa S...
Ditemukan 157 Spesies Baru di Asia Tenggara, Apa Saja?

Ditemukan 157 Spesies Baru di Asia Tenggara, Apa Saja?

Karmin Winarta - Kamis, 13 Des 2018 14:00 WIB

Trubus.id -- Salah satu sumber keanekaragaman hayati di Asia Tenggara adalah di pedalaman Great Mekong. Di tempat ini para peneliti telah menemukan harta karun berupa spesies baru. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni 157 spesies. 

Spesies baru ini diantaranya monyet yang mirip Luke Skywalker, gecko yang berumbai-rumbai dan kelelawar dengan potongan rambut yang funky.

Iflscience.com menulis, penemuan ini terungkap dalam laporan WWF baru, New Species on the Block, yang melaporkan dengan rinci spesies baru yang ditemukan di Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam pada tahun 2017.

Salah satu temuan yang mengejutkan mereka adalah Skywalker Hoolock Gibbon, yang ditemukan di hutan Myanmar. Perlu waktu hampir 10 tahun untuk memastikan bahwa Skywalker muda (Hoolock tianxing) telah menyimpang dari leluhurnya yang paling dekat (H. leuconedys) sekitar 0,6 juta tahun yang lalu. 

Baca Lainnya: Waspada Penyakit Mematikan, dari Kutu Spesies Baru yang Ditemukan pada Ternak

Hal ini membuat hewan unik ini dikelompokkan sebagai spesies baru. Sayangnya, monyet kecil ini sudah terdaftar sebagai salah satu dari 25 primata paling terancam di planet ini.

Spesies baru lainnya adalah Hkakabo Razi Tube-nosed Bat, kelelawar berambut pirang. Karena potongan rambut pirangnya yang khas, peneliti menjuluki makhluk itu "Lance Bass Bat,".

Spesies baru yang didokumentasikan pada tahun 2017 adalah spesies katak kecil yang disebut Elfin Mountain Toad. Makhluk seperti hobbit ini hidup di hutan-hutan berlumut dan berlumpur yang berlumut di Vietnam.

Penemuan spesies baru ini menjadi berita besar, namun, tantangan yang menakutkan terbentang di depan mata. Laporan WWQ Living Planet menekankan, keanekaragaman hayati dunia berada dalam bahaya besar. Antara tahun 1970 dan 2014, populasi global spesies vertebrata telah menurun rata-rata 60 persen.

Baca Lainnya: Langka, Organisme Baru Ini Tidak Masuk Golongan Hewan Maupun Tumbuhan

"Ada lebih banyak spesies di luar sana yang menunggu untuk ditemukan dan tragisnya banyak yang akan punah sebelum ditemukan, " kata Stuart Chapman, Direktur Regional untuk Dampak Konservasi WWF Asia. 

Ia mengatakan,  “Hal ini tidak boleh terjadi. Menutup perdagangan ilegal satwa liar, akan sangat membantu melestarikan keanekaragaman satwa liar yang luar biasa di wilayah Mekong. ”

"Ada darah, keringat, dan air mata di balik setiap penemuan baru, "tambah Chapman. "Kita harus berpacu dengan waktu untuk mengumumkan penemuan baru sehingga langkah-langkah dapat diambil untuk melindunginya sebelum terlambat."

Editor : Karmin Winarta

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020