trubus.id
STM Hulu Jadi Sentra Produksi Salak, Petani Senang

STM Hulu Jadi Sentra Produksi Salak, Petani Senang

Karmin Winarta - Selasa, 11 Des 2018 13:30 WIB

Trubus.id -- Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deli Serdang, memiliki lahan tanaman salak membentang di seluas 187 hektare. Meski baru 93,4 hektare, sudah bisa memproduksi 1.125 ton per tahun. Kecamatan ini ditetapkan sebagai sentra produksi salak di Deli Serdang.

Kepala Dinas Pertanian Deli Serdang, Syamsul Bahri mengatakan, saat ini pihaknya sedang memproses terbentuknya Sub Terminal Agribisnis (STA) dengan mengorganisir petani salak. Pihaknya juga telah membentuk personil dan koperasi.

“Harapannya, pengurus yang akan menjalankan STA. Selama ini sudah ada petani yang berpikir dan bertindak maju dengan menjalin jaringan luas, sehingga produknya bisa masuk ke pasar modern atau super market besar di Medan,” kata Syamsul, Selasa (10/12).

Baca Lainnya: Harganya Anjlok, Salak Organik Jombang yang Manis, Jadi Kecut

Diungkapkan Syamsul, pihaknya secara bertahap setiap tahun memberikan bantuan bibit untuk pengembangan. Selain itu, pihak pemerintah provinsi juga diimbau untuk mendukung pertanaman salak di STM Hulu.

“Tidak secara langsung, misalnya 100 hektare secara perlahan. Tidak bisa buru-buru, karena pemasaran juga harus dipersiapkan matang. Makanya dibangun STA. Mudah-mudahan bisa diresmikan tahun depan,” ungkapnya.

Seorang petani salak di Desa Rumah Sumbul, Kecamatan STM Hulu, Tuahman Saragih mengatakan, saat ini mengelola lahan salak seluas 25 hingga 30 hektare yang umurnya bervariasi, mulai dari 5 tahun hingga 15 tahun.

“Baru sekitar 15 hektare yang berproduksi,” ungkapnya.

Tuahman menjelaskan, setiap bulan dari lahan tersebut bisa memproduksi sebanyak 3 hingga 3,5 ton per bulan. Ada dua jenis salak yang dikembangkan petani di Kecamatan STM Hulu, salak pondoh dan salak madu.

Baca Lainnya: 3 Periset UNY Ciptakan Suplemen Penurun Kolesterol dari Buah Salak

“Keduanya memiliki rasa yang berbeda, harganya pun berbeda. Jika salak pondoh harga jualnya sekitar Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per Kilogram. Salak madu bisa mencapai Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per Kilogram,” jelasnya.

Diungkapkan Tuahman, harga salak madu lebih tinggi karena rasanya lebih manis dan tekstur dagingnya lebih lembut. Karena tanaman salak pondoh lebih dulu, maka lahan pertanamannya lebih luas.

“Saat ini tanaman salak madu sudah mulai bertambah. Kelebihan lain, saat tanaman memasuki umur 2  sapai 2,5 tahun, salak madu sudah bisa berproduksi. Sedangkan salak pondoh baru bisa berproduksi pada umur 3 hingga 3,5 tahun,” ungkapnya.

Tuahman mengaku, selama ini petani tidak bisa berbuat banyak karena rantai pasarnya masih dikuasai tengkulak, sehingga menyebabkan harga bervariasi. Menurutnya, hal itu sangat merugikan petani karena tidak bisa menentukan harga.

Beberapa waktu lalu sudah berproses membentuk STA di Tuga Juhar dengan tujuan sebagai sentra penjualan panen salak dari petani di STM Hulu. Dengan adanya STA, diharapkan harga bisa lebih adil.

Dengan begitu, petani bisa lebih sejahtera dan bisa memperluas lahannya. Untuk memperluas saat ini sudah ada 200-an pohon induk yang sudah disertifikasi. Dengan adanya pohon induk yang disertifikasi, jika ada perluasan lahan untuk memenuhi kebutuhan bibit bisa dipenuhi oleh kelompok tani.

“Nah, kalau ada perluasan lahan untuk petani baru, ambilnya bisa dari situ. Dari satu batang bisa diambil 6 sapai 10 buah untuk dijadikan bibit,” sebutnya.

Menurut Tuahman, bertanam salak lebih menguntungkan daripada bertanam kelapa sawit atau karet. Apalagi dirinya dan petani lain sudah mendapat kabar bahwa STM Hulu dijadikan sebagai sentra salak Deli Serdang.

“Kami semangat, ditambah lagi dengan adanya STA. Harapannya petani yang kurang mampu dengan lahan terbatas bisa terorganisir,” tandasnya.

Editor : Karmin Winarta

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020