trubus.id
Peristiwa » LIPI Akui, Belum Ada Teknologi yang Secara Akurat...
LIPI Akui, Belum Ada Teknologi yang Secara Akurat Bisa Prediksi Datangnya Gempa

LIPI Akui, Belum Ada Teknologi yang Secara Akurat Bisa Prediksi Datangnya Gempa

Astri Sofyanti - Selasa, 02 Okt 2018 14:15 WIB

Trubus.id -- Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto mengungkapkan, hingga saat ini belum ada satupun teknologi di dunia yang mampu secara akurat dan presisi memprediksi kapan terjadinya gempa bumi.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih cerdas lagi dalam menanggapi jika mendapatkan informasi berantai terkait terjadinya gempa Megathrust atau berskala besar yang belum jelas dan tujuannya hanya untuk menimbulkan kecemasan.

“Jadi jika ada informasi yang menyatakan mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi beserta kekuatan magnitudonya, kami pastikan itu berita bohong (hoax),” terang Eko saat melakukan Media Briefing Analisis LIPI untuk Gempa dan Tsunami Indonesia, di Kantor LIPI, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (2/10).

Baca Lainnya : Ini Analisis LIPI untuk Gempa dan Tsunami di Palu

Lebih lanjut ia menjelaskan, bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu-Donggala, Sulawesi Tengah ini terjadi di atas sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro adalah komponen vertikal pada saat gempa dan secara tiba-tiba mengoyak kolom air, sehingga membuat patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua bagian, barat dan timur. 

"Sesar Palu Koro memiliki pergerakan aktif dan jadi perhatian para peneliti geologi,” ujarnya.

Ia berpesan, agar fakta-fakta seperti ini dijadikan dasar kesiapsiagaan dan kewaspadaan, serta menjadi perhatian penting agar dampak buruk dari terjadinya bencana bisa diminimalisir.

Baca Lainnya : Gempa dan Tsunami Mengakibatkan Muncul Fenomena Likuifaksi, Ini Penjelasannya

Sementara itu, Peneliti Geofisika Kelautan LIPI dari Pusat Penelitian Oseanografi, Nugroho Dwi Hananto menambahkan, Sesar Palu Koro kemungkinan memiliki komponen deformasi (perubahan) vertikal di dasar laut yang bisa memicu terjadinya tsunami.

“Kawasan Teluk Palu-Donggala memiliki bentuk mirip kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam, jadi saat ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya akan jauh lebih cepat,” sambung Nugroho.

Menurutnya gempa dan tsunami yang terjadi di Palu-Donggala, Sulteng ini menjadi pelajaran penting terkait perlunya data geo-sains yang lebih akurat dalam mengkaji potensi gempa yang bersumber dari bawah laut. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020