trubus.id
Temuan Mumi Penguin di Antartika Memprediksi Masa Depan Iklim

Temuan Mumi Penguin di Antartika Memprediksi Masa Depan Iklim

Ayu Setyowati - Kamis, 13 Sept 2018 17:30 WIB

Trubus.id -- Mayat ratusan penguin yang dimumikan di Antartika bukanlah tanda penyakit kuno. Bukan pula sisa-sisa pembantaian penguin oleh predator yang kelaparan. Penguin tersebut menjadi mumi lantaran lingkungan Antartika yang kering dan dingin. Ada kemungkinan, penguin mati karena cuaca di ujung spektrum: dua peristiwa hujan lebat dan bersalju yang terjadi selama 1.000 tahun terakhir, kata sebuah studi terbaru.

"Sangat mungkin bahwa pemanasan iklim global menyebabkan peningkatan curah hujan, menyebabkan tragedi," kata pemimpin peneliti, Liguang Sun, profesor ilmu bumi di Institut Lingkungan Kutub di Universitas Sains dan Teknologi China.

Tim peneliti menemukan sisa-sisa mumi yang diawetkan dan dikeringkan. Ada banyak dari mumi dari anak penguin yang ditemukan di Long Peninsula Timur, Antartika, pada tahun 2016. Sebenarnya, sangat umum untuk menemukan sisa-sisa penguin adélie yang mati (Pygoscelis adeliae), termasuk bulu dan tulangnya di Antartika.

Baca Lainnya : Menyedihkan, Koloni Penguin Raja Menyusut 90 Persen

"Namun, sangat jarang menemukan begitu banyak penguin yang telah dikawinkan, terutama anakan yang dimumikan," kata Liguang kepada Live Science melalui email.

Penanggalan radiokarbon mengungkapkan jika penguin ini mati secara bertahap selama beberapa dekade. Terjadi dalam dua periode yang berbeda, sekitar 750 dan 200 tahun yang lalu.

Setelah memelajari sedimen yang tersimpan di sekitar mumi, termasuk kotoran penguin dan sisa sarang, para peneliti menyimpulkan bahwa peristiwa iklim ekstrem yang terjadi selama beberapa dekade, menjadi penyebab kematian penguin ini.

Selain itu, para peneliti menemukan bukti yang menunjukkan bahwa, banjir akibat hujan lebat telah membawa tubuh penguin dan sedimen sekitarnya, menurun.

Baca Lainnya : Kabar Baik, 1,5 Juta Penguin Ditemukan di Antartika

"Lalu, penguin yang masih hidup meninggalkan area bersarang. Terbukti dari sejumlah kecil sedimen yang diletakkan setelah korban massal," kata para peneliti.

Prediksi penguin

Memelajari bagaimana penguin bernasib baik selama peristiwa iklim ekstrem, dapat membantu peneliti memprediksi apa yang mungkin terjadi pada hewan ini di masa depan.

"Secara umum, diyakini bahwa tren pemanasan global saat ini akan terus berlanjut atau bahkan memburuk," kata Liguang.

Karena perubahan iklim buatan manusia memanaskan planet Bumi, Antartika akan melihat lebih banyak hujan dan salju, yang kemungkinan akan meningkatkan kematian besar di antara populasi penguin.

Baca Lainnya : Penguin Mati Ini Terperangkap dalam Jaring Ikan, Kok Bisa?

Penguin adelie berasal dari Antartika, di mana saat ini memiliki sekitar 250 tempat perkembangbiakan, kata para peneliti. Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN) mencatat jika hewan merupakan spesies yang paling tidak diperhatikan. Artinya, penguin tidak terancam atau hampir punah. Tapi, peristiwa cuaca ekstrem dapat membahayakan nyawanya.

Selain catatan sejarah, bukti saat ini menunjukkan bahwa, peningkatan hujan dan salju dapat mematikan bagi anak-anak penguin.

"Selama musim kawin 2013 hingga 2014, seratus persen anak-anak penguin dari 34.000 penguin pembiakan, mati selama tiga peristiwa curah hujan yang tak henti-hentinya dan hujan salju terus-menerus," ucap peneliti.

Anak-anak penguin mengalami kesulitan bertahan hidup dari hujan dan salju yang ekstrem. Lantaran belum memiliki bulu yang tahan air, mereka bisa mati karena hipotermia setelah basah dan dingin.

Baca Lainnya : So Sweet, Penguin Ini Rutin Temui Pemiliknya Setahun Sekali

Selain itu, hujan salju besar-besaran dapat menyulitkan pembibitan. Salju bisa berbahaya untuk menetaskan anak penguin.

"Salju yang meleleh bisa menenggelamkan telur, menyebabkan anak-anak penguin memiliki bobot lahir yang lebih rendah," ucap peneliti.

Untuk menghindari penguin mati secara massal, Liguang berkata, "Manusia perlu melakukan lebih banyak dan memperlambat tren pemanasan global saat ini." [DF]


 

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020