trubus.id
Life » Badai Florence Bisa Jadi Bencana Kesehatan Masyara...
Badai Florence Bisa Jadi Bencana Kesehatan Masyarakat di North Carolina

Badai Florence Bisa Jadi Bencana Kesehatan Masyarakat di North Carolina

Diah Fauziah - Kamis, 13 Sept 2018 14:00 WIB

Trubus.id -- Badai Florence yang mengancam beberapa negara bagian di Amerika Serikat berpotensi bencana bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Alasannya karena, hujan deras dapat membanjiri lubang tempat limbah beracun dari pembangkit listrik disimpan.

Dua tahun lalu, Duke Energi Corp diperintahkan untuk membersihkan kolam abu batu bara di North Carolina yang menimbulkan risiko terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Perusahaan tersebut tidak selesai tepat waktu akibat badai, membuat tempat tersebut rentan terhadap tumpahan yang dapat mengeluarkan limbah.

Selain itu, North Carolina juga merupakan produsen utama unggas dan babi. Laguna buatan berisi kotoran babi dan unggas bisa meluap ke ladang dan saluran air terdekat.

Baca Lainnya : Georgia Gawat Darurat karena Badai Florence

Badai Florence punya ukuran dan kekuatan yang kuat. Jadi yang terkuat dalam waktu 30 tahun. Tidak heran jika 1 juta orang mulai mengungsi dari pantai. Untuk sementara waktu, mereka memilih tidak tinggal di rumahnya yang dekat pantai.

Duke Energi Corp di bawah tekanan untuk mengatasi penyimpanan abu batu bara setelah 39 ribu ton abu batubara tumpah pada 2014 lalu. Pada tahun 2016, pejabat negara setempat memberi tenggat waktu bagi perusahaan hingga 1 Agustus 2019 untuk menggali dan menutup beberapa lubang batu bara tersebut.

"Lubang bekas penggalian batu bara sangat rentan terhadap Badai Florence dan yang lainnya," kata Frank Holleman, pengacara senior di Pusat Hukum Lingkungan Selatan.

Duke Energi Corp memiliki 31 lubang untuk menyimpan abu batu bara. Per Agustus 2017, negara setempat memperkirakan ada 111 juta ton abu batu bara. Beberapa pegawai perusahaan dipindahkan ke pantai di North Carolina untuk memantau lokasi pembuangan abu batu bara dan juga produk sampingan dari batu bara yang terbakar untuk menghasilkan listrik. Termasuk arsenik, kromium dan merkuri yang menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan jika tumpah ke cadangan air minum.

Baca Lainnya : Hujan Badai di Jepang Tewaskan 64 Orang

Lima lubang dijadwalkan untuk penutupan dengan segera, memiliki lokasi paling dekat dengan pantai.

"Di lubang ini, airnya masih sedikit. Bisa menahan hujan yang signifikan. Namun, banyak kolam penyimpanan abu batu bara dekat sungan yang rentan meluap selama badai besar," kata Erin Culbert, juru bicara Duke Energi Corp, dalam email yang dikirim ke Time.

Di industri peternakan, dampak lingkungan akibat Badai Florence bisa berasal dari laguna atau lubang yang digunakan untuk mengelola limbah babi dan unggas. Biasanya, limbah tersebut disimpan di laguna karena dianggap sebagai cara aman untuk menyimpan pupuk sebelum digunakan.

Namun, limbah tersebut bisa menjadi masalah ketika ada badai dan hujan lebat. Ada potensi jika limbah tersebut akan hanyut, masuk ke cadangan air yang digunakan untuk minum atau rekreasi, menurut Waterkeeper Alliance, kelompok lingkungan.

Baca Lainnya : Badai Baru Sebabkan 18 Orang Tewas di India timur

Lebih dari 10 miliar pon limbah hewan basah diproduksi setiap tahun di North Carolina, menurut laporan kelompok tersebut pada Juni 2016 lalu. North Carolina merupakan produsen kalkun terbesar di Amerika Serikat.

"Badai yang semakin parah dan berpotensi belum pernah terjadi sebelumnya ini merintangi episentrum peternakan hewan di North Carolina. Karena limbah dikelola menggunakan praktik kuno, dapat mengancam kualitas air," kata Will Hendrick, pengacara dan manajer staf untuk kampanye air di Waterkeeper Alliance.

Namun, peternakan babi membantah gagasan bahwa ada banyak risiko lingkungan dari laguna limbah.

"TIdak ada dampak lingkungan akibat Badai Hurricane 2016 lalu. Saya yakin, Badai Florence tidak menyebabkan dampak lingkungan di North Carolina. Para petani sudah menggunakan pupuk kandang sepanjang tahun. Laguna dapat menampung air hujan sebanyak 64 sentimeter. Lebih dari itu, baru boleh khawatir," kata Andy Curliss, Chief Executive Officer di North Carolina Pork Council. DF]

 

 

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020