trubus.id
Peristiwa » Rupiah Melemah, Sri Mulyani: Impor Barang Mewah Ti...
Rupiah Melemah, Sri Mulyani: Impor Barang Mewah Tidak Penting

Rupiah Melemah, Sri Mulyani: Impor Barang Mewah Tidak Penting

Astri Sofyanti - Kamis, 06 Sept 2018 16:45 WIB

Trubus.id -- Untuk mencegah semakin terpuruknya nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, pemerintah terpaksa menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 kepada 1.147 barang konsumsi impor.  

210 item komoditas tarif PPh 22 naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen, 218 item komoditas tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 10 persen dan 719 item komoditas tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyatakan, menghadapi situasi seperti saat ini, ia menilai bahwa melakukan impor barang mewah sama sekali tidak penting. Ia mengungkapkan, selain barang mewah, Indonesia juga mengimpor sejumlah kebutuhan lain yang sebenarnya bisa didapatkan di negeri sendiri.

Baca Lainnya : Pembatasan Impor Lemahkan Daya Beli Masyarakat

"Beberapa di antaranya barang elektronik dan keperluan sehari hari seperti sabun, shampo, kosmetik, serta peralatan masak," teras Sri Mulyani di Kemenkeu, Kamis (6/9).

Lebih lanjut Menkeu menjelaskan, kenaikan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 kepada 1.147 barang konsumsi impor itu mencakup makanan dan minuman. Dari jumlah itu ada barang-barang impor berupa teh, ikan dan shampo.

"Masa Indonesia penghasil teh, impor teh? Impor ikan, kopi, makarel kalengan. Kenapa tidak mancing di negeri sendiri? Ini suatu kesempatan. Masa shampo juga harus diimpor," ungkapnya lagi.

Baca Lainnya : Nilai Tukar Dolar Naik, Harga Kedelai Bahan Baku Tempe Ikut Melonjak

Sebelumnya, pemerintah hari ini melakukan kebijakan dalam rangka pengendalian defisit neraca transaksi berjalan. 

Hal ini dilakukan larena perkembangan perekonomian global saat ini telah memberikan dinamika yang tinggi terhadap neraca transaksi berjalan (current account) dan mata uang di banyak negara, termasuk Indonesia.

Untuk itu, Sri Mulyani mengatakan pada semester I 2018, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai USD13.5 miliar, 2,6 persen terhadap PDB. Salah satu penyebab defisit transaksi berjalan adalah pertumbuhan impor 24.5 persen year to date, Juli 2018, yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor 11,4 persen year to date Juli 2018. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020