trubus.id
Life » Konsumsi Daging Orang Asia Meningkat, Lingkungan S...
Konsumsi Daging Orang Asia Meningkat, Lingkungan Semakin Tercemar

Konsumsi Daging Orang Asia Meningkat, Lingkungan Semakin Tercemar

Diah Fauziah - Kamis, 06 Sept 2018 15:30 WIB

Trubus.id -- Dalam tiga tahun ke depan, keinginan makan daging dan makanan laut di Asia semakin tinggi. Akibatnya, emisi gas rumah kaca dan antibiotik yang digunakan dalam makanan, akan mengalami peningkatan besar, menurut para peneliti.

Meningkatnya populasi, pendapatan dan urbanisasi, dapat mendorong peningkatan 78 persen permintaan daging dan makanan laut sejak tahun 2017 hingga 2050 mendatang, menurut laporan Asia Research and Engagement, perusahaan konsultan di Singapura.

"Kami ingin menyoroti hal itu. Bagaimana pun juga, populasi besar akan memberi beban pada lingkungan," kata Serena Tan, peneliti.

"Dengan memahami hal ini, kami dapat mengatasi solusinya," ucap Serena kepada Thomson Reuters Foundation.

Baca Lainnya : Usai Makan Seafood Mentah, Tangan Pria Ini Diamputasi

Dengan rantai pasokan yang lebih tinggi untuk memenuhi permintaan, emisi gas rumah kaca akan melonjak dari 2,9 miliar ton karbon dioksida (CO2) per tahun menjadi 5,4 miliar ton. Setara dengan emisi seumur hidup dari 95 juta mobil, kata para peneliti.

Luas lahan sebesar India akan diperlukan untuk produksi pangan tambahan, menurut laporan itu. Penggunaan air akan naik dari 577 miliar meter kubik menjadi 1.054 miliar meter kubik per tahun. Penggunaan antimikroba, yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan mikro organisme, termasuk antibiotik, akan meningkat 44 persen.

"Jadi 39 ribu ton per tahun," kata laporan itu.

Penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik dalam makanan, tersebar luas di Asia Tenggara. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengatakan jika pada tahun 2018, peringatan risiko serius bagi orang dan hewan sebagai infeksi bakteri menjadi lebih tahan terhadap pengobatan.

Baca Lainnya : Ini Dia Alternatif Asupan Protein Pengganti Daging

"Daerah perkotaan berkontribusi pada meningkatnya permintaan untuk daging dan makanan laut. Alasannya karena mereka punya akses lebih baik ke listrik dan freezer," ucap David Dawe, ekonom senior di FAO, Bangkok.

Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar dan Pakistan termasuk di antara negara-negara yang kemungkinan besar berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi daging dan makanan laut. Sementara China, kemungkinan akan membatasi pertumbuhan, kata Serena.

"Produsen makanan dapat meningkatkan efisiensi dengan menerapkan panen air hujan, menggunakan pakan ternak berkelanjutan dan menangkap biogas dari ternak," jelas Serena.

Konsumen juga dapat memilih makanan nabati yang dibuat agar terlihat seperti daging sebagai alternatif. [DF]

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020