trubus.id
Life » Benarkah Sedotan Logam dan Tas  Daur Ulang Itu Ram...
Benarkah Sedotan Logam dan Tas  Daur Ulang Itu Ramah Lingkungan?

Benarkah Sedotan Logam dan Tas  Daur Ulang Itu Ramah Lingkungan?

Diah Fauziah - Kamis, 30 Agu 2018 12:00 WIB

Trubus.id -- Sedotan logam dan tas daur ulang alias yang tidak sekali pakai, sedang jadi tren karena bisa mengurangi sampah plastik dan juga ramah lingkungan. Namun, apakah dua barang tersebut benar-benar ramah lingkungan?

Well, jika Trubus Mania membeli sedotan logam, tanpa disadari telah berkontribusi terhadap 2,8 miliar pon limbah beracun dari logam pertambangan, 20 persen sampah laut dari pelayaran internasional, dan lebih dari 2 juta ton sampah dari kemasan.

Sepertinya, sedotan logam tidak membuat kita ramah lingkungan seperti yang diduga selama ini. Sebelum panik dengan apa yang harus dilakukan, kita masih bisa menerapkan ramah lingkungan jika terus melakukan beberapa hal.

Baca Lainnya : Dilema, Larangan Sedotan Plastik Berdampak Negatif Bagi Penyandang Cacat? 

Beberapa gerai makanan siap saji di dunia menghentikan penyediaan tutup dan sedotan plastik untuk minumannya. Tidak mengherankan jika daya tarik sedotan logam lebih memikat dari sebelumnya.

Beberapa waktu lalu, The Straits Times mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa 1,76 miliar pastik digunakan di Singapura setiap tahun. Tapi, kurang dari 20 persennya yang didaur ulang.

Untuk memerangi prevalensi limbah plastik yang akan datang, sedotan logam telah digadang-gadang sebagai alternatif terbaik untuk plastik sekali pakai. Namun, sama seperti produk lain yang terbuat dari sumber daya alam atau antropogenik, sedotan logam memiliki biaya lingkungan.

Baca Lainnya : Gerakan Tanpa Sedotan, Tren Baru Mengurangi Sampah Plastik

Sementara itu, beberapa penelitian telah dilakukan tentang dampak positif dari penggunaan sedotan logam. Banyak yang telah melihat tentang dampak lingkungan dari tas belanja yang dapat digunakan kembali, yang sama-sama menganjurkan kemampuannya untuk digunakan lebih dari satu kali.

Kita semua tahu bahwa, cara untuk mengurangi limbah kantong plastik ialah dengan memilih yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Selain ramah lingkungan, lebih hemat juga. 1000 kantong plastik yang dapat dipakai lagi bisa menghemat 250 ribu Singapore Dollar atau sekitar Rp2,65 miliar.

Banyak orang tidak menyadari bahwa menggunakan tas yang bisa digunakan berkali-kali, dapat membuat perbedaan sebanyak 104 kali. Namun, tas ini mengambil lebih banyak bahan dan energi untuk diproduksi daripada tas plastik sekali pakai yang standar. Studi tahun 2009 menemukan bahwa, tas ramah lingkungan hanya bisa digunakan 52 kali. Namun, dampaknya lebih berbahaya terhadap lingkungan daripada tas sekali pakai.

Baca Lainnya : Diklaim Lebih Baik untuk Manusia dan Lingkungan, Sedotan Logam Jadi Produk Terlaris

Mengingat dampak buruk pilihan 'hijau' ini terhadap lingkungan, tampaknya prakarsa pro lingkungan mungkin tidak bermanfaat seperti yang diduga. Menerapkan gaya hidup ramah lingkungan tidaklah sesederhana yang terlihat. Meminimalkan jejak lingkungan tergantung berbagai hal, misalnya bagaimana setiap barang dibuat, diproduksi dan dikirim.

Manfaat keseluruhan dari menggunakan bahan logam atau daur ulang, tampaknya berada di bawah daftar pertimbangan dan perbandingan yang tidak pernah berakhir. Apapun itu, tidak berarti harus tetap menggunakan barang sekali pakai yang mencemari udara dan mengancam kehidupan liar dan laut.

Kita harus memperhatikan bagaimana kebiasaan setiap hari memengaruhi Bumi. Selain itu, kita harus mencoba yang terbaik untuk memastikan bahwa niat untuk menjadi ramah lingkungan, sejalan dengan cara mengonsumsi dan menggunakan produk tersebut.

Baca Lainnya : Gaya Hidup Hijau, Jangan Pakai Sedotan Plastik

Kerusakan yang datang dengan sampah plastik atau hasil dari materi lain sangat bergantung pada manusia dan bagaimana kita memasukkannya dalam kehidupan.

Trubus Mania dapat menghemat pembelian tas daur ulang dengan membawa kantong plastik bekas ke supermarket saat berbelanja. Atau, minum langsung dari gelas daripada menggunakan sedotan logam saat mengonsumsi minuman.

Tidak ada satu pun barang yang benar-benar ramah lingkungan. Sebagian besar barang meninggalkan jejak karbon dan menghambat ekosistem dengan satu atau lain cara. Mungkin, bukan bahan baku yang membuat kita ramah lingkungan, melainkan, bagaimana kita menggunakannya.

Nah, sesuatu yang harus dipikirkan oleh kita bersama, Trubus Mania! [DF]


 

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020