trubus.id
Pentas Monolog Cut Nyak Dhien Ditampilkan Sha Ine Febriyanti di Medan

Pentas Monolog Cut Nyak Dhien Ditampilkan Sha Ine Febriyanti di Medan

Diah Fauziah - Rabu, 29 Agu 2018 23:00 WIB

Trubus.id -- Pertunjukan seni salah merupakan paling efektif untuk menyuarakan, mempresentasikan, atau menyampaikan sebuah opini. Semakin baik apresiasi masyarakat terhadap seni, semakin maju peradaban sebuah bangsa.

Berangkat dari hal itu, Sha Ine Febriyanti tergerak untuk berbagi talenta di bidang seni pertunjukan dengan mengadakan roadshow yang menghadirkan Pentas Monolog Cut Nyak Dhien dan juga workshop atau diskusi di sepuluh kota di Indonesia.

Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, kegiatan ini diselenggarakan di 10 kota di Indonesia, di antaranya Bali, Makassar, Solo, Surabaya, Kudus, Tasikmalaya, Bandung, Medan, Padang, dan Padang Panjang.

Baca Lainnya : Hebat, 5 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Anak Petani

Sebagai pejuang dan juga ibu, Cut Nyak Dhien diakui Ine banyak memberikan inspirasi bagi dirinya. Inilah yang membuat Ine memperkenalkan cerita tentang pejuanng perempuan asal Aceh ini kepada masyarakat Indonesia.

“Dari Cut Nyak Dhien, kita belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan sekuat-kuatnya dan tak henti,” kata Ine Febriyanti saat ditemui di Taman Budaya Sumatra Utara (TBSU) di Kota Medan, Selasa (28/8) malam.

Foto: Kontributor Trubus.id/ Reza Perdana.

Tidak sekadar pementasan, ada juga workshop untuk generasi muda dengan bakat dan minat terhadap seni teater, khususnya monolog, yang terkendala akses dan informasi. Dalam pelatihan, peserta diberikan edukasi tentang seni peran dan kreasi, khususnya teater monolog.

Berbagi semangat, inspirasi, peluang, dan persiapan yang harus dimiliki oleh seorang pelakon seni, khususnya dalam berteater, terbukti menumbuhkan semangat bibit-bibit baru pelaku seni dalam bidang seni teater dari generasi muda.

Baca Lainnya : Nasib Istri Pahlawan Revolusi, dari Jualan Gaplek Hingga Batik

Monolog Cut Nyak Dhien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan menghampiri kehidupannya. Dikenal sebagai seorang perempuan pejuang perkasa, Cut Nyak Dhien tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya, sang suami, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar.

“Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dhien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya. Juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya,” ucap Ine.

Foto: Kontributor Trubus.id/ Reza Perdana.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian mengungkapkan, nama Cut Nyak Dhien sudah tidak asing lagi terdengar. Sejak berada di bangku sekolah dasar, Cut Nyak Dhien diperkenalkan sebagai seorang perempuan pejuang perkasa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang pantang menyerah.

“Dalam monolog ini, Sha Ine Febriyanti mengenalkan sisi lain Cut Nyak Dhien yang juga merupakan seorang perempuan, istri dan ibu yang tangguh. Pentas ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih dalam mengenai sosok Cut Nyak Dhien dan bisa menginspirasi masyarakat luas melalui semangat dan kegigihan yang beliau miliki,” tutur Renita.

Baca Lainnya : Empat Tokoh Ini Jadi Pahlawan Nasional 2017

Sebagai seorang istri, Cut Nyak Dhien acap kali gelisah ketika suaminya pamit ke medan perang dan tak terdengar kabar keberadaannya. Meski memahami risiko dihadapi suaminya saat berhadapan dengan para khape di medan juang, Cut Nyak Dhien tetaplah perempuan yang punya rasa. Hatinya hancur dan menangis kala mendengar kematian suami tercintanya.

Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bangkit untuk meneruskan jejak dan semangat juang suaminya. Tanpa takut, ia bergerilya bersama pasukannya hingga kemudian ditangkap dan dijauhkan dari tanah kelahirannya dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Kisah ini dituturkan Cut Nyak Dhien dari Hutan Sumedang, tempatnya menjalani masa-masa pengasingan hingga meninggal dunia pada 6 November 1908. Disutradarai dan dimainkan oleh Sha Ine Febriyanti, karya ini dipentaskan untuk pertama kalinya pada tahun 2014 lalu di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, dan dibawa berkeliling ke beberapa kota di Indonesia Pada 2015.

Tahun ke-109 kepergian Cut Nyak Dhien, monolog ini dipentaskan kembali pada 16 November 2017 di Bentara Budaya, Jakarta dan Kuala Lumpur pada 7 Februari 2018. [DF]


 

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020