trubus.id
Keran Impor Dibuka, Bulog Jamin Terus Serap Beras Petani Lokal

Keran Impor Dibuka, Bulog Jamin Terus Serap Beras Petani Lokal

Ihsan Maulana - Senin, 27 Agu 2018 19:45 WIB

Trubus.id -- Saat ini, pemerintah tengah berupaya menstabilkan harga beras di pasaran, yang saat ini terpantau masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Direktur Pengadaan Bulog, Bachtiar menyebutkan, selain memberikan izin impor 2 juta ton beras masuk ke Indonesia pada April silam untuk menstabilkan harga dan mengamankan stok, Bulog juga tetap berkomitmen untuk tetap menyerap beras dari petani lokal.

"Stok sudah keluar pasti kita juga penyerapan dalam negeri dari petani tetap kita maksimalkan," ujarnya seusai mengikuti rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Senin (27/8).

Baca Lainnya : Mendag: Beras Akan Digelontorkan ke Pasar Sampai Harganya Sesuai HET

Ia menambahkan, pengadaan beras dalam negeri secara keseluruhan, sudah mencapai 1,4 juta ton. Jumlah ini yang akan digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti operasi pasar, penanggulangan bencana alam hingga rastra.

Sementara dari total kebutuhan itu stok beras dalam negeri, yang sudah terpakai sekitar 560 ribu ton.

"Jadi sekarang stok dalam negeri masih sekitar 800 ribu ton. Lah kan stok tidak hanya ada di cadangan beras pemerintah. Cadangan beras pemerintah secara keseluruhan masih ada dua juta. Secara bertahap datang 500, trus 500 lagi yang datang dari Thailand, Vietnam, Pakistan, India," sambungnya.

Di sisi lain, ia mengatakan jika saat ini di sebagian daerah, baru ada yang panen pasca musim kemarau.

Baca Lainnya : Mendag: Kebijakan Impor Beras 2 Juta Ton untuk Cadangan Bulog

"Sulsel masih full. Sehari masih bisa ribuan ton. Kan bulog nyerap sebagian aja. Per hari Bulog masih bisa menyerap 5.000 ton lebih. Nanti kita lagi konsolidasi semoga dalam waktu dekat bisa kembali 10 ribu," tukasnya.

Ia menegaskan, realisasi beras impor yang akan masuk jumlahnya tidak akan bulat 2 juta ton, tetapi hanya 1,8 juta ton.

"Diusahakan sampai akhir September, atau sampai Oktober. Itu bisa meningkat lebih dari 5.000 ton yang bisa diserap. Jadi tergantung kondisi pasar dan hasil pertanian kita berupaya sergap di atas 5.000 ton," tutupnya. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020