trubus.id
Lantaran Faktor Ekonomi, Australia Berisiko <i>Overtourism</i>

Lantaran Faktor Ekonomi, Australia Berisiko Overtourism

Ayu Setyowati - Kamis, 23 Agu 2018 14:30 WIB

Trubus.id -- Pariwisata layaknya dua mata pisau. Satu sisi memberikan manfaat bagi perekonomian sedangkan lainnya membawa bencana. Nah, bencana yang diakibatkan pariwisata adalah turis yang berlebihan alias overtourism.

Overtourism bisa mengancam suatu negara ketika lokasi tujuan pariwisata di sebuah daerah tidak memiliki faktor penunjang yang memadai, khususnya dalam hal infrastruktur maupun sumber daya manusia.

Hal tersebut akan menciptakan pengalaman wisata yang buruk bagi turis maupun penduduk setempat. Berakibat pada terciptanya rasa tidak nyaman. Jika terus dibiarkan tanpa ada upaya untuk mengimbanginya, overtourism bisa menyebabkan dampak buruk yang serius bagi sebuah negara.

Baca Lainnya : Nomaden, Cara Pasangan Muda Ini Traveling Keliling Australia 4 Tahun

Mengutip CNN, beberapa negara seperti Spanyol dan Kroasia sempat dilanda overtourism ketika angka turis mencapai dua hingga tiga kali lebih besar dari penduduk asli di negara tersebut pada tahun 2016.

Namun, overtourism tidak hanya bersinggungan dengan jumlah wisatawan saja. Beragam faktor seperti kemacetan, kehidupan alam liar yang terancam dan permasalahan lingkungan, bersinggungan dengan kegiatan turis. Saat ini, Australia mulai memperlihatkan gejala overtourism. Tak heran jika ada beberapa pihak yang khawatir akan hal tersebut.

Memang, pengunjung Australia tidak seperti turis di Venesia atau Barcelona pada tahun 2016 lalu. Namun, kebijakan pariwisata yang buruk menjadi ancaman akan bahaya overtourism untuk Austalia. Hal ini bisa dilihat dari strategi pariwisata pemerintah Australia yang menargetkan pendapatan sebesar 150 miliar dolar Australia (sekitar Rp1.500 triliun) pada tahun 2020. Angka tersebut mengindikasikan jargon pariwisata berkelanjutan yang digaungkan pada pertengahan 1990-an, tidak lagi menjadi prioritas.

Baca Lainnya : Musim Semi Bunga Liar di Australia, Ini Spot Terbaik untuk Mengaguminya

Pada 2011 lalu, Kangaroo Island Pro-Surf dan Music Festival membawa 5.000 pengunjung ke Vivonne Bay, sebuah dusun kecil dengan populasi penduduk hanya 400 orang. Menurut penelitian The Inertia, ini terjadi akibat dorongan dari badan pariwisata setempat yang ingin meningkatkan pariwisata di pulau tersebut. Akibatnya, festival ini tak lagi diselenggarakan pada tahun berikutnya.

Namun, ini tak menghentikan Dewan Pengembangan Ekonomi negara yang justru merekomendasikan penggandaan jumlah wisatawan di pulau itu pada tahun 2020. Selain itu, ribuan orang di negara bagian Australia lain sempat melakukan protes terhadap atraksi wisata mobil kabel di Gunung Wellington, Tasmania.

Warga menolak kehadiran mobil kabel yang diprediksi akan menarik lebih dari satu juta wisatawan setiap tahunnya lantaran dinilai bisa menjadi penyebab overtourism di Australia. Ketika ditanyakan mengenai upaya menanggulangi overtourism, banyak ahli menyatakan bahwa peraturan pemerintah adalah jawaban yang tepat untuk permasalahan ini.

Baca Lainnya : Keren, Australia Punya Wisata Alam Batu Granit Raksasa

Contohnya ialah Barcelona, di mana pemerintah kota mengatasi kelebihan wisatawan dengan memperketat pembatasan Airbnb. Sementara itu, Pemerintahan Thailand tidak segan menutup Pantai Maya di Pulau Phi Phi selama empat bulan setiap tahunnya.

Strategi pariwisata yang kini dimiliki Australia lebih fokus pada peningkatan jumlah pengunjung, tanpa mencerminkan nilai-nilai dan keinginan masyarakat lokal dalam regulasinya. Faktor kenyamanan wisatawan pun juga cenderung diabaikan. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? [DF]
 
 


 

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020