trubus.id
Populasi Burung Menurun 50 Persen, Dasar Keluarnya Permen LHK P20/2018

Populasi Burung Menurun 50 Persen, Dasar Keluarnya Permen LHK P20/2018

Syahroni - Rabu, 15 Agu 2018 20:15 WIB

Trubus.id -- Kekhawatiran akan terus menurunnya populasi satwa di habitatnya menjadi dasar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P20/2018. Dalam Permen tersebut, berisi daftar sejumlah satwa dan tumbuhan yang dilindungi.

Yang menjadi masalah, beberapa jenis burung berkicau yang banyak dipelihara warga dan sudah banyak ditangkarkan, masuk ke dalam daftar itu. Seperti burung pleci jawa, jalak suren, murai batu dan anis merah contohnya.

Berdasarkan keterangan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari tahun 2000 sampai dengan saat ini, telah terjadi penurunan populasi berbagai spesies burung di habitatnya. Tak tanggung tanggung, penurunan ini terjadi hingga 50% dari populasi awal.

Baca Lainnya : Dinilai Matikan Perekonomian Masyarakat, FKMI Tuntut Permen LHK 20/2018 Dicabut

"Kita bisa lihat sendiri satwa Jalak Suren memang di penangkaran banyak tapi di habitatnya apa ada?" kata Staf Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Surakarta, BKSDA Jateng, Joko Triyono, Selasa (14/8) kemarin.

Joko mengatakan jika di penangkaran jenis satwa tersebut memang banyak, namun LIPI melihat kelangkaan berdasarkan habitat satwa. Sehingga, dengan adanya peraturan menteri ini diharapkan perlindungan dan pengelolaan intensif terhadap spesies burung perlu ditingkatkan. Melalui upaya konservasi di habitatnya (in-situ) dan di luar habitatnya yang terpadu.

Menanggapi hal itu, Bang Boy, penanggung jawab Forum Kicau Mania Indonesia (FKMI) sekaligus pendiri yayasan pecinta burung BnR mengatakan, persoalan menurunnya populasi burung di habitat aslinya seharusnya dilihat dari sisi lain. 

"Misalnya kenapa populasi burung di habitat aslinya berkurang, yah karena hutannya sudah banyak dialihfungsikan. Seharusnya pemerintah mengurus hal itu dulu," ujar Bang Boy saat dihubungi Trubus.id, Selasa (14/8) kemarin.

Baca Lainnya : Siap-siap, BKSDA DIY Akan Mulai Mendata Kicau Mania Pemelihara Burung Dilindungi

Ia menerangkan, saat ini burung jalak suren, murai batu dan anis merah sudah banyak ditangkarkan. Hebatnya, populasinya kini sangat banyak. Diberbagai lomba burung berkicau, burung-burung hasil penangkaran dapat dengan mudah dijumpai. Menurutnya hal ini yang harus diperhatikan pemerintah juga. Karena bisa menggerakan ekonomi masyarakat.

"Kalau di penangkaran itu murai batu bisa produksi berkali-kali dalam setahun. Tapi kalau di hutan itu paling cuma sekali," katanya lagi.

Sementara itu, untuk mencegah kepunahan, banyak juga peternak burung berkicau yang melepaskan sebagian burungnya ke alam. Bahkan ia mengatakan, sejak bertahun-tahun lalu, Yayasan BnR yang ia bangun, sudah beberapa kali melepaskan ribuan burung ke alam liar.

Lima tahun silam saja, BnR melepas 2 ribu ekor burung anis merah hasil penangkaran di Bali.

Baca Lainnya : Permen LHK Nomor 20 Tentang Satwa Dilindungi, Bikin Resah Kicau Mania

"Belum lagi di Merapi, terakhir waktu penutupan ABRI Masuk Desa di Purwakarta, kita lepas lagi burung hasil tangkaran sebanyak 1500 ekor," jelasnya.

Namun demikian, yang jadi pertanyaan, jika burung-burung itu dilepaskan, akankah hutan tempat mereka dilepasliarkan siap? Bang Boy menjelaskan, kondisi hutan, jangankan di pulau Jawa, di Sumatera pun sudah banyak yang beralih fungsi sehingga tidak cocok dihuni burung lagi.

"Kalau mau dilepas, coba itu KLHK perbaiki hutannya dulu. Jangan ditebang dan dibuka jadi lahan industri. Burung mana bisa hidup ditempat seperti itu. Hutannya mana sekarang?," tutup Bang Boy. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020