trubus.id
Gen Domestikasi Ditemukan pada Rubah, Bukti Hewan Ini Jinak

Gen Domestikasi Ditemukan pada Rubah, Bukti Hewan Ini Jinak

Diah Fauziah - Rabu, 08 Agu 2018 21:30 WIB

Trubus.id -- Percobaan selama enam dasawarsa dengan rubah, dirancang untuk menjelaskan bagaimana perilaku serigala bisa jinak seperti anjing, telah mengarah pada penemuan gen yang mendukung perilaku jinak atau agresif seekor hewan, kata para ilmuwan pada Senin (6/8).

Membandingkan gen rubah berurutan yang dipilih di antara 50 generasi untuk keramahan hewan tersebut terhadap orang yang membesarkannya dengan kelompok lain yang dibesarkan untuk permusuhan, menemukan lusinan perbedaan, termasuk satu gen pada khususnya, berdasarkan laporan peneliti dalam jurnal Nature Ecology & Evolution.

"Kami dapat menunjukkan bahwa gen tertentu yang dikenal sebagai SorCS1, memiliki efek pada perilaku, membuat rubah lebih jinak," kata Anna Kukekova, penulis utama yang juga asisten profesor di University of Illinois, Amerika Serikat.

Baca Lainnya : Demi Hak Asasi Hewan, Norwegia Hentikan Peternakan Bulu Rubah dan Mink

"Itu hasil yang besar. Sulit untuk membuat koneksi itu," katanya.

Latar belakang penelitian rubah dimulai sejak setengah abad lalu, ketika asal-usul domestikasi hewan kurang dipahami dan diperebutkan. Pada tahun 1959, ahli biologi Rusia, Dmitri Belyaev, memutuskan untuk menguji teorinya bahwa gen memainkan peran yang lebih penting daripada interaksi manusia dalam metamorfosis serigala secara bertahap menjadi subspesies sahabat manusia yang disebut anjing.

Pada saat yang sama, pemenang hadiah nobel, Konrad Lorenz, pelopor dalam studi agresi pada hewan dan manusia, berpendapat bahwa anak anjing maupun serigala yang baru lahir dan dibesarkan dengan perawatan manusia yang lembut dan penuh cinta akan menjadi jinak. Dmitri menduga sebaliknya, di mana ia memilih Vulpes vulpes atau rubah merah sebagai penelitiannya.

Baca Lainnya : Malang, Rubah-rubah Ini Diperlakukan Tak Layak Demi Diambil Bulunya

Rusia merupakan negara yang memiliki banyak peternakan rubah, di mana pemilik peternakan memanen hewan tersebut untuk diambil bulunya, menawarkan kesempatan sempurna untuk percobaan skala besar.

"Rubah yang dibesarkan di peternakan tidak dijinakkan," kata Anna, ahli genetika evolusi yang mulai mempelajari rubah sejak 16 tahun lalu.

Ia melanjutkan, "Jika Anda mencoba untuk menyentuh rubah, mereka menunjukkan rasa takut dan agresi, sama seperti di alam liar."

Dmitri menemukan peternakan besar yang bersedia bekerja sama. Secara sistematis, ia memilih rubah yang menunjukkan sedikit stres dan ketakutan di sekitar orang dan mengulang prosesnya dengan setiap generasi baru.

Baca Lainnya : Horor, Inilah yang Terjadi Kalau Rubah Menerobos Rumah

"Setelah hanya 10 generasi, mereka mendapat beberapa rubah jinak yang seperti anak anjing, mengibaskan ekor mereka ketika melihat orang-orang. Bahkan, ketika tidak ada makanan. Mereka hanya senang melihat manusia," ucap Anna.

Hari ini, semua dari 500 pasangan rubah dalam penelitian tersebut merasa nyaman di hadapan manusia. Bahkan, jika mereka tidak dijinakkan seperti anjing.

Sekitar tahun 1970, tim Dmitri di Russian Institute of Cytology and Genetics menambahkan sekelompok rubah dipilih untuk agresivitas hewan tersebut dan kelompok kontrol ketiga dengan campuran acak. Untuk penelitian baru, Anna dan rekannya menyusun genom dari 10 rubah dari masing-masing tiga kelompok.

"Pengubah permainan bagi kami adalah pengembangan teknologi sekuensing generasi mendatang," kata Anna.

 Baca Lainnya : Dibanding Serigala, Anjing Lebih Susah Diajak Kerja Sama

Sapuan genetik sebelumnya menghasilkan potongan kode dengan lusinan atau ratusan gen, sehingga mustahil untuk mengisolasi yang penting. Kali ini, para peneliti menunjuk 103 wilayah genetik yang relevan.

Secara signifikan, lebih dari 60 persen hewan jinak, berbagi varian SorCS1 yang sama. Di antara rubah agresif, varian itu sama sekali tidak ada. Studi ini juga mengungkapkan bahwa gen berbeda bertanggung jawab atas perilaku yang sangat spesifik.

"Misalnya, ketika rubah menyapa orang dengan mengibaskan ekornya, ditentukan oleh gen berbeda dari mereka yang bertanggung jawab untuk memungkinkan manusia menyentuh perut rubah," jelas Anna.

Dan, apakah rubah ingin memperpanjang interaksi dengan manusia, diatur oleh sedikit kode genetik. [DF]


 

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020