trubus.id
Keren, Pondok Pesantren Ini Mampu Cetak Wirausahawan Agrobisnis

Keren, Pondok Pesantren Ini Mampu Cetak Wirausahawan Agrobisnis

Thomas Aquinus - Minggu, 05 Agu 2018 14:00 WIB

Trubus.id -- Pondok pesantren (ponpes) Al Ittifaq yang berlokasi di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat sukses mencetak santrinya menjadi seorang wirausahawan.  Dengan wilayah pegunungan berhawa sejuk, ponpes yang dipimpin KH Fuad Affandi tersebut mampu mengelola potensi alam sekitarnya dengan membina para santrinya yang mayoritas dari golongan ekonomi rendah, fakir miskin dan anak yatim piatu.

Pondok pesantren (ponpes) Al Ittifaq tidak hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga belajar kemampuan usaha, terutama di sektor pertanian atau agrobisnis.  Sejak didirikan pada 1 Februari 1934 oleh KH Mansyur yang adalah kakek dari KH Fuad, ponpes Al Ittiqaf hanya menerapkan sistem pendidikan pesantren yang dipadati oleh kegiatan mengkaji ilmu agama, tanpa mementingkan urusan ekonomi. Di tangan KH Fuad, ponpes dikelola dengan lebih modern. Karena menampung santri dalam jumlah banyak, tentu membutuhkan biaya pendidikan dan operasional yang tidak sedikit. 

"Di muka bumi ini tak ada pekerjaan yang paling mudah selain bertani, karena tak membutuhkan syarat-syarat khusus dan siapapun boleh melakukannya. Kenapa ini disia-siakan," kata KH Fuad saat menerima kunjungan Asisten Deputi Pengembangan Investasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Sriliasti ke ponpes.

Menariknya program kegiatan usaha pertanian yang dirintisnya bersama para santri pun mulai berjalan dengan memproduksi sayuran dataran tinggi. Adapun jumlah komoditas yang diproduksi sekitar 25 jenis sayuran antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, lobak, seledri, kacang merah, wortel, jagung semi, golden berry (ciplukan), selada, kubis, dan lain sebagainya. 

Baca Lainnya : Toko Trubus Beri Dampingan Agribisnis Kepada 600 Polisi

Seiring berjalannya waktu, usaha pertanian ponpes Al Ittifaq pun membuahkan hasil, bahkan mampu menjadi tulang punggung kegiatan pesantren. Namun untuk menembus pasar yang lebih luas, usaha pertanian KH Fuad dinilai perlu untuk membentuk koperasi.

"Sebesar apapun perusahaan, kalau pribadi atau jalan sendiri, jangan mengharapkan untuk jalan. Menawarkan produk ke modern market juga tidak dapat atas nama perorangan, melainkan harus atas nama lembaga atau koperasi," ujar KH Fuad. 

Baca Lainnya : Toko Trubus Beri Dampingan Kewirusahaan Agribisnis Kepada Anak Muda di Belitung

Langkah pun diambil dengan membentuk koperasi yang kini sudah beranggotakan 1.075 orang, ponpes Al Ittifaq akhirnya mampu memasok sayuran ke pasar-pasar modern hingga pasar ekspor. Kini, dengan lahan seluas 130 hektar, 270 petani yang merupakan alumni dari ponpes Al Ittifaq mampu memproduksi dan memasok sayuran ke pasar-pasar modern hingga 2 ton setiap harinya. 

Meski tidak terlalu besar, dengan omzet Rp450 juta per bulan, anggota koperasi dapat menerima SHU sebesar Rp5 juta sampai Rp10 juta per tahun. Sebagian anggota yang merupakan masyarakat sekitar mengaku tidak mengharapkan pendapatan pribadi yang besar dari koperasi pondok pesantren (Koppontren) Al Ittifaq. Mereka menyadari bahwa penghasilan koperasi adalah untuk kebutuhan operasional pesantren seperti biaya pendidikan dan makan sehari-hari para santri. [NN]

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020