trubus.id
Daya Beli Petani NTT Meningkat

Daya Beli Petani NTT Meningkat

Binsar Marulitua - Kamis, 02 Agu 2018 19:45 WIB

Trubus.id -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Maritje Pattiwaellapia menyatakan, daya beli petani di provinsi berbasis kepulauan ini telah meningkat selama tiga bulan terakhir yakni Mei hingga Juli 2018 akibat meningkatnya nilai tukar petani.

"Kondisi nilai tukar petani di NTT berturut-turut dari Mei 104,69 persen, Juni 105,26 persen, dan Juli 106,42 persen yang mengartikan daya beli petani semakin meningkat," kata Maritje di Kupang. 

Ia menjelaskan, peningkatan daya beli itu dikarenakan biaya yang dikeluarkan petani lebih kecil dari yang diterima, baik untuk konsumsi maupun produksi. Nilai tukar petani pada Juli 2018 meningkat pada sejumlah sub sektor seperti tanaman padi-palawija mencapai 106,66 persen, holtikultura 103,76 persen.

Baca Lainnya : Kementan Tingkatkan Kesejahteraan Petani Berbasis Korporasi, Seperti Apa?

Selain itu, sub sektor perkebunan rakyat mencapai 106,79 persen, peternakan 107,35 persen, dan perikanan mencapai 110,97 persen. "Jadi semua sub sektor meningkat. Hal ini juga karena kondisi cuaca yang berdampak pada beberapa sub sektor ini," katanya.

Lebih lanjut, Maritje menjelaskan terkait inflasi di wilayah pedesaan atau yang disebut konsumsi rumah tangga sedikit mengalami inflasi pada Juli 2018 sebesar 0,23 persen. Umumnya semua kebutuhan rumah tangga mengalami inflasi, namun tidak terlalu tinggi dibandingkan indeks harga yang diterima petani.

Maritje menjelaskan, kebutuhan untuk biaya produksi petani pada Juli 2018 tercatat meningkat dibandingkan Juni yaitu sebesar 0,11 persen. Peningkatan biaya ini khususnya pada belanja sejumlah barang modal seperti linggis, pukat tarik, jukung, dan gerobak.

Baca Lainnya : BI Lakukan Pendampingan Petani Rumput Laut di Bali

 "Memang ada kenaikan biaya produksi, tetapi masih bisa dijangkau para petani karena penerimaan mereka masih lebih besar," demikian 
Maritje Pattiwaellapia.

Maritje Pattiwaellapia juga mengemukakan bahwa indeks harga konsumen (IHK) Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi sebesar 0,13 persen pada Juli 2018.

"Deflasi ini terjadi akibat adanya penurunan harga pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan," katanya dan menambahkan kondisi inflasi di daerah setempat pada Juli 2018 masih sangat terkendali, sebab secara year on year (yoy) atau Juli 2018 terhadap Juli 2017 IHK tercatat mengalami inflasi 1,58 persen.

Ia menjelaskan, pada Juli 2018 IHK pada kota sampel nasional di provinsi setempat yakni Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,19 persen. Sedangkan Kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka di Pulau Flores mengalami inflasi 0,29 persen.

Baca Lainnya : Pemkab Bangka Dorong Petani Manfaatkan Bekas Tambang Timah Untuk Budidaya Ikan

Maritje menyebut, kelompok pengeluaran yang mendorong terjadinya deflasi yakni tranportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,39 persen dengan andil 0,34 persen.

Komponen yang mengalami deflasi terbesar yaitu angkutan udara sebesar 0,38 persen, selain sawi putih 0,13 persen,bawang merah 0,09 persen, tomat sayur 0,08 persen, cabai merah 0,03 persen.

Komoditas seperti daun seledri, ikan teri, kubis, bawang putih, kembang kol juga masih-masih mengalami deflasi di bawah 0,03 persen. "Jadi andil terbesar untuk deflasi pada Juli yaitu angkutan udara dengan andil 0,38 persen," katanya.

Baca Lainnya : Ini Dia Program Keren Kementan Atasi Krisis Petani Muda

Ia menjelaskan, harga angkutan udara mengalami penurunan cukup signifikan karena musim liburan sudah selesai sehingga permintaan tiket pesawat tidak melonjak.

"Secara nasional komponen transportasi, komunikasi, maupun jasa juga deflasinya cukup tinggi sebesar 1,93 persen dengan andil 0,34 persen," katanya. [NN]

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020