trubus.id
Peristiwa » Keren, Guru di Ambon Sulap Limbah Durian jadi Bend...
Keren, Guru di Ambon Sulap Limbah Durian jadi Benda Seni Bernilai Tinggi

Keren, Guru di Ambon Sulap Limbah Durian jadi Benda Seni Bernilai Tinggi

Binsar Marulitua - Minggu, 22 Jul 2018 12:00 WIB

Trubus.id -- Selain rasa yang lezat dan mengandung manfaat gizi, buah durian juga bisa dimanfaatkan sebagai inovasi kreatif dalam peningkatan daya saing produk berbasis agroindustri.

Di tangan seorang guru asal Kota Ambon bernama Uci Romuti, limbah durian bisa disulap menjadi lampu hias, kertas kanvas foto, kanvas lukis, tempat souvenir tisu, pot bunga, kertas undangan dan kerajinan unik lainnya.

"Limbah organik tidak bermasalah apabila ditangai secara bijak, kemudian dilakukan sentuhan inovasi dan teknologi. Kita bisa menciptaka kreativitas dan menghargai produk baru," jelas Romuti ketika dijumpai pada salah satu "booth' dalam Pekan Peduli Lingkungan Hidup dan Kehutanan di JCC, Jakarta, Sabtu (21/7). 

Romuti yang merupakan guru teknik kejuruan mengatakan, dalam mengubah kulit durian menjadi bahan baku pembuatan sejumlah karya kreatif tersebut tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya memerlukan ketekunan dan sedikit kesabaran untuk menciptakan karya yang hendak yang dibentuk.

Baca Lainnya: Surabaya Akan Terapkan Teknologi Larva Untuk Kurangi Sampah

Sebagai langkah pertama pemanfaatan limbah ini adalah mengubah limbah durian menjadi serat kulit durian. Kulit durian dijemur sehari kemudian dipotong, diiris kulit durian tersebut hingga ukuran kecil, lalu direndam dalam air selama 24 jam dan direbus. Untuk mempercepat pelembutan bisa memakai suhu api di atas rata-rata atau sedikit menggunakan bahan kimia soda api secukupnya.

"Lalu saat direbus aduk yang rata dan untuk membantu melembutkan saja, dua atau tiga sendok perlu dicampur soda api," jelasnya.

Setelah dua jam mendidih, serat durian dicuci. Untuk mengurangkan efek  gatal akibat soda api, serat durian sebaiknya dicuci pada air yang mengalir untuk selanjutnya diputihkan supaya cerah. Atau memakai pewarna alami dan tekstil.

Setelah melewati Perendaman dan pembuatan bubur kertas proses selanjutnya adalah pencetakan. Dituangkan bubur kertas pada tapisan nylon no.16 yang berbingkai kayu, atau screen sablon 40 x 60t 12. Disebar seratnya dan diratakan secara konsisten di seluruh permukaan lapisan, ketebalan dan kerapian permukaan kertas akan bergantung pada keterampilan orang yang melakukan penataan.

Proses lanjutan adalah pengeringan. Dijemur tapisan yang telah diolesi bubur kertas itu di bawah sinar matahari selama 5 jam. Diangkat /dilepas kertas yang sudah kering dari tapisan. Sebelum digunakan, kertas yang diperoleh disimpan di tempat yang kering. 

"Setelah menjadi kering, serat siap dibentuk sesuai bentuk dan keingingan kreativitas yang ingin diciptakan," jelasnya. 

Ia menambahkan teknologi bisa digunakan untuk semua bahan organik. Pelepah pisang, daun nanas, daun daunan tumbuh tumbah yang berserat. hanya saja di Ambon sedang banyal limbah durian. 

Baca Lainnya: Jika Disambung, Sampah Sedotan Plastik Indonesia bisa Mencapai Meksiko dalam Sehari

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati menambahkan, saat ini KLHK sedang merancang Peraturan Menteri (Permen) tentang gerakan masyarakat dalam pengelolaan sampah di mana salah satu isinya adalah movement-movement. 

Tingkat penggunaan kertas di Indonesia saat ini mencapai 5,6 juta  ton/tahun. Apabila sebatang pohon dapat memproduksi 560 kg kertas, maka dalam setahun dibutuhkan 10 juta batang pohon untuk memenuhi kebutuhan produksi kertas.

Pemenuhan kebutuhan produksi kertas tersebut dapat menyebabkan penebangan liar sehingga mengakibatkan kerusakan hutan yang dapat meningkatkan pemanasan global. Oleh karena itu, perlu adanya bahan baku alternatif yang memiliki kandungan selulosa tinggi untuk pembuatan kertas sebagai inovasi dan wujud pencegahan terjadinya degradasi lingkungan. 

"Salah satu sumber selulosa terdapat pada kulit durian. Produksi durian di Indonesia cukup melimpah yaitu sekitar 80.441 ton pada tahun 2014 berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan 85% kulitnya tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah padat agroindustri yaitu kulit durian menjadi produk yang bernilai ekonomis. [KW]

Editor : Karmin Winarta

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020