trubus.id
Peristiwa » Sejak 4 Tahun Lalu Depok Mengolah Sampah Organik P...
Sejak 4 Tahun Lalu Depok Mengolah Sampah Organik Pakai Magot

Sejak 4 Tahun Lalu Depok Mengolah Sampah Organik Pakai Magot

Karmin Winarta - Minggu, 22 Jul 2018 10:00 WIB

Trubus.id -- Pengelolaan sampah masih menjadi masalah utama di beberapa kota. Banyak yang belum mengetahui, ada cara lebih efektif dan efisien dalam mengelola sampah organik. Selama ini pengelolaan sampah dilakukan dengan bantuan teknologi yang diciptakan manusia. Padahal ada cara yang lebih efektif, efisien dan berbiaya murah dan menguntungkan.

Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Depok, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Sejak 4 tahun lalu, Pemkot Depok memanfaatkan magot untuk mengelola sampah.

Heriyanto dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Depok.

Trubus Mania ada yang belum tahu magot? Magot adalah larva atau belatung yang berasa dari lalat hitam (Black Soldier Fly) yang dibudidayakan.

Baca Lainnya: Magot, Pengolah Sampah Organik yang Handal

Heriyanto, salah satu pengelola sampah organik dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) kota Depok mengungkapkan, cara pengolahan sampah dengan memanfaatkan magot ini telah dilaksanakan sejak 4 tahun lalu di Depok. Dia bercerita, sampah-sampah yang telah sampai di Unit Pengolahan Sampah (UPS) dipilah berdasarkan kategorinya masing-masing.

Kepada Trubus.id di Pekan Lingkungan Hidup di JCC, Jakarta Pusat ia menyampaikan, sampah organik yang telah dipisahkan ini dijadikan makanan magot. Magot sangat rakus dalam memangsa sampah organik ini. Apapun dimakan tanpa menyisakan, mulai dari sampah buah sampai tulang ayam.

"Satu gram telur lalat hitam, perlu sekitar satu kilogram sampah organik," katanya Sabtu (21/7). 

Baca Lainnya: Keren, KKP Sukses Kembangkan Pakan Ikan Berbahan Dasar Sampah Organik

Heriyanto selama ini telah melakukan pelatihan bagaimana cara mengelola sampah dengan memanfaatkan magot. Selain warga biasa, banyak juga peternak yang belajar kepada dirinya. Namun ia mengaku lebih suka jika ada orang yang tertarik budidaya magot untuk datang ke tempat pengelolaan sampah langsung.

Menurutnya, dengan datang langsung ke tempat budidaya magot, orang akan mengetahui lebih detail prakteknya seperti apa. Banyak orang yang awalnya geli atau jijik melihat magot, apalagi memegangnya.

"Orang-orang yang punya tekad kuat akan bisa mengalahkan semua itu," katanya.

Sampai saat ini ia terus mengajak masyarakat untuk mengolah sampah dengan cara unik ini. Namun sampai sekarang skala-nya masih termasuk kecil. Setiap hari baru mampu mengurai sampah organik 300 sampai 400 kilo.  [KW]

Editor : Karmin Winarta

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020