trubus.id
Amerika Kelimpungan karena China Tak Lagi Impor Sampah Daur Ulangnya

Amerika Kelimpungan karena China Tak Lagi Impor Sampah Daur Ulangnya

Diah Fauziah - Rabu, 18 Jul 2018 13:00 WIB

Trubus.id -- Selama berbulan-bulan, fasilitas daur ulang sampah di Baltimore, Amerika Serikat, menghadapi masalah besar. Tempat ini harus memikirkan cara lain untuk mengatasi sampah kertas dan plastik yang biasanya dijual ke China. Padahal, sejak beberapa dekade, banyak perusahaan di China membeli tumpukan besar sampah padat yang mengandung kertas, karton, atau plastik dari Amerika Serikat.

Setelah membersihkan dan menghancurkan sampah plastik dan kertas yang dibelinya, perusahaan di China mengubahnya menjadi bahan baku untuk tanaman industri. Pada tahun 2017, China membeli lebih dari separuh bahan bekas yang diekspor oleh Amerika Serikat. Secara global, sejak tahun 1992, sebanyak 72 persen sampah plastik yang dihasilkan penduduk di Amerika Serikat berakhir di China dan Hong Kong, menurut penelitian di jurnal Science Advances.

Baca Lainnya : Begini Cara Rwanda Mengatasi Sampah Elektronik

Namun, sejak Januari 2018, China tidak lagi membeli sampah daur ulang karena kebijakan lingkungan yang diterapkan pemerintahnya, di mana mereka tidak lagi berniat jadi tempat sampah dunia atau bahkan, tempat sampah yang dihasilkan penduduknya.

Untuk produk limbah seperti karton dan logam, China telah menetapkan tingkat kontaminasi sebesar 0,5 persen. Ambang batas yang terlalu rendah bagi sebagian besar teknologi Amerika Serikat saat ini.

"Tidak ada satu pun negara yang bisa mengambil sampah plastik yang dihasilkan penduduk Amerika Serikat dalam jumlah besar seperti China," kata Adina Renee Adler dari Institut Daur Ulang Pengikisan di Washington.

Baca Lainnya : Negara Nordik Bantu Bandung Kelola Sampah

Negara pengimpor sampah daur ulang lainnya seperti Indonesia, Vietnam dan India tidak mampu menyerap puluhan juta ton sampah plastik dan kertas yang sebelumnya diambil China.

"Pada akhirnya, kita akan memiliki cadangan sampah daur ulang yang semakin banyak jika tidak menemukan tempat dan inovasi baru untuk bahan daur ulang," kata Darrell Smith, presiden Asosiasi Limbah dan Daur Ulang Nasional. [DF]

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020