trubus.id
Life » Revolusi Hijau di India Bisa Menghemat Penggunaan...
Revolusi Hijau di India Bisa Menghemat Penggunaan Air untuk Pertanian

Revolusi Hijau di India Bisa Menghemat Penggunaan Air untuk Pertanian

Diah Fauziah - Rabu, 11 Jul 2018 14:30 WIB

Trubus.id -- Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa India bisa menghasilkan lebih banyak makanan bergizi dan mengurangi penggunaan air hanya dengan mengalihkan hasil panen petani sereal.

Saat ini, sekitar 7,3 miliar orang tinggal di Bumi. Pada tahun 2050 mendatang, populasi manusia di seluruh dunia diperkirakan mencapai 9,7 miliar. Inovasi teknologi telah membantu mempertahankan pertumbuhan populasi di masa lalu. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa kita tidak memerlukan teknologi canggih untuk pemenuhan gizi yang dibutuhkan.

Peneliti utama, Kyle Frankel Davis dari Universitas Columbia mengatakan kepada VOA, "Minat penelitian saya berasal dari upaya untuk menyelaraskan keamanan pangan dan sasaran lingkungan. Revolusi Hijau adalah contoh yang baik tentang bagaimana kita tidak dapat melakukan itu secara historis."

Baca Lainnya : Pestisida Nabati, Pertanian Ramah Lingkungan

Revolusi Hijau adalah nama yang diberikan untuk pengembangan beras dan gandum unggul pada tahun 1960-an. Secara dramatis, tanaman tersebut dapat meningkatkan pasokan makanan di India dan di tempat lain.

Namun, para petani membutuhkan air dan pupuk dalam jumlah besar. Dengan pasokan air dan pupuk yang bermasalah di banyak negara, para ahli mendorong petani untuk mempertimbangkan tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air dan pupuk.

Kyle dan rekan penulisnya ingin menguji apakah peralihan dari beras dan gandum ke jagung atau sorgum, dapat menyebabkan keseimbangan nutrisi yang lebih baik dan juga penggunaan air lebih sedikit.

Baca Lainnya : Pertanian di Jepang, Punya Cita Rasa Seni Memukau

Para penulis melakukan proses penelitian selama dua kali. Yang pertama, mereka memilih biji-bijian yang akan meningkatkan keseimbangan kandungan gizi di antara kalori, protein, besi dan seng. Penelitian kedua tentang cara mengurangi air untuk sistem irigasi dengan mengganti beras jadi gandum lain seperti sorgum atau jagung yang membutuhkan air lebih sedikit namun bergizi.

"Perubahan kecil para peneliti membawa dampak besar. Studi ini benar-benar memberi perhatian pada tanaman pangan alternatif yang mendorong ilmuwan India maupun mitra internasional untuk melakukan lebih banyak penelitian di lapangan," menurut Kritee Kritee dari Environmental Defense Fund yang mempelajari pertanian cerdas dan iklim.

Baca Lainnya : China Sulap Gurun Tandus Jadi Lahan Pertanian Subur

Kyle mengatakan jika penghematan air bisa terjadi.

"Kami memperkirakan bahwa permintaan air dapat dikurangi sepertiga, merupakan volume yang sangat besar. Saya juga terkejut bahwa ada solusi yang sama-sama menguntungkan di sana," tutur Kyle.

Saat ini, sebagian besar biji-bijian ditanam di Punjab dan Haryana. Menanam biji-bijian akan menciptakan lebih sedikit ketergantungan daerah, yang dapat melindungi petani terhadap kegagalan panen lokal.

Baca Lainnya : Sistem Pertanian Akuaponik Laris Manis di Padang Pasir, Kok Bisa?

"India memiliki 100 juta pertanian kecil, kurang dari dua hingga lima hektare, di mana para petani menghasilkan kurang dari US$2 pe hari. Perilaku ini tidak hanya didorong oleh harga yang ditetapkan pemerintah, melainkan petani kecil yang mengelola mata pencaharian mereka," kata Kritee.

Studi ini diterbitkan dalam Science Advances, bagian dari program penelitian yang lebih besar untuk mengatasi berbagai aspek pertanian di India. Para peneliti tertarik untuk mengamati bagaimana perubahan iklim, penggunaan lahan, dan faktor-faktor lain mempengaruhi praktik pertanian, dengan tujuan meningkatkan hasil tanpa merusak lingkungan.

Untuk menerjemahkan temuan ini dalam kebijakan, Kyle berkata, "Dalam mengembangkan solusi ini, peneliti bekerjasama dengan pejabat pemerintah dan ahli lokal untuk benar-benar menyesuaikan solusi." [DF]

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020