trubus.id
Peristiwa » Fakta Mengejutkan di Balik Polemik Susu Kental Man...
Fakta Mengejutkan di Balik Polemik Susu Kental Manis

Fakta Mengejutkan di Balik Polemik Susu Kental Manis

Karmin Winarta - Kamis, 01 Jan 1970 00:00 WIB

Trubus.id --  

Berpuluh-puluh tahun warga Indonesia telah mengonsumsi susu kental manis dengan damai. Bahkan di beberapa tempat, terutama di pinggiran kota atau di kampung-kampung banyak warga yang mengonsumsi SKM dengan menambahkan gula.
Tak ada yang mempermasalahkan dengan kebiasan itu. Masyakat sebagai konsumen tampaknya telah mempersepsikan, SKM yang dikonsumsi selama ini adalah susu yang baik untuk kesehatan. 

Karena harganya yang lebih ekonomis, rasanya enak dan praktis pemakaiannya, SKM menjadi salah satu bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat, termasuk bayi. 

Tampaknya masyarakat hanya melihat iklan yang terus-menerus membombardir konsumen melalui segala medium yang menggambarkan SKM adalah susu yang sehat terutama untuk anak-anak. 

Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan, warga Kendari, Sulawesi Tenggara adalah salah satu bayi yang mengkonsumsi SKM karena orang tuanya tak kuat membeli susu yang harganya lebih mahal. Bocah bernama Muhammad Muharam itu mengalami malnutrisi atau gizi buruk.
Sebenarnya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah sejak lama melarang pemberian SKM pada anak di bawah usia balita untuk pemenuhan gizi.  
Karena SKM merupakan susu yang dibuat dengan melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan added sugar (gula tambahan).

"Hal ini menyebabkan susu kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO pada 2015 ternyata kurang dari 10 persen dari total kebutuhan kalori," tulis dr. Bagus Budi, seperti dikutip IDAI.org, Kamis (5/7).

Masalahnya adalah, seberapa aware konsumen Indonesia mengetahui hal ini?

BPOM pun mengeluarkan Surat edaran  yang ditujukan kepada produsen, importir, distributor produk susu kental, dan analognya. 
Surat edaran itu bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang 'Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3)'

"Dalam rangka melindungi konsumen, utamanya anak-anak, dari informasi yang tidak benar dan menyesatkan, perlu diambil langkah perlindungan yang memadai," demikian bunyi surat edaran tersebut. 

Surat yang terdiri dari 4 poin ini BPOM melarang  menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apa pun.
Kedua, pelarangan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain antara lain susu sapi/susu yang dipasteurisasi/susu yang disterilisasi/susu formula/susu pertumbuhan.

Ketiga melarang penggunaan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.

Keempat Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.
"Produsen/importir/distributor produk susu kental dan analognya (Kategori Pangan 01.3) harus menyesuaikan dengan surat edaran ini, paling lambat 6 bulan sejak ditetapkan," tutup surat edaran tersebut. 
Surat edaran itu diteken oleh Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM Suratmono pada 22 Mei 2018. 

Kontroversi SKM

Di media sosial,  isu SKM menjadi kontroversi. Sebagian menyebut SKM bukan susu. Sementara pihak yang lain menyebut bahwa SKM adalah susu. 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman mengatakan kepada media, SKM adalah produk turunan susu. Dia membantah jika ada yang menyebutkan SKM bukanlah produk susu. 

Sebenarnya apa saja kandungan yang ada pada SKM?
Menurut Penny Lukito, Kepala BPOM di Jakarta, Selasa (3/7) SKM hanya mengandung protein 6,5 persen dan lemak susu minimal 8 persen. Tanpa ada kandungan padatan susu sama sekali.

Namun menurut Suratmono dari BPOM penggunaan susu kental manis tidak dilarang, tapi cara mengonsumsinya berbeda dari susu biasa.

Apakah yang telah dilakukan produsen sebuah penipuan?

Tulus Abadi dari YLKI mengatakan,  yang menjadi persoalan adalah terminologi dari susu kental manis itu. 
“Karena, susu itu kan tidak manis. Kalau susu yang murni itu tidak manis, kenapa ada susu kental manis? Nah, ini terminologi yang kemudian patut dipertanyakan.”

Ia juga mengatakan bahwa kandungan SKM tidak mewakili susu, melainkan gula.
Meski begitu, menurut Tulus, produk susu kental manis tak bisa langsung disebut penipuan. “Penipuan baru akan terjadi jika komposisi produk berbeda dengan yang tertulis pada kemasan; “katanya.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito juga menegaskan produsen tidak perlu menghapus kata susu dalam produk kemasan susu kental manis (SKM) apalagi penarikan produk yang telah beredar.  

BPOM kini  tengah membuat Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Label dan Iklan Pangan. BPOM berencana mengatur label pangan lewat skema traffic light.

Kami harus memberikan label yang user friendly. Dibuat lebih mudah saat dibaca. Mungkin dengan warna seperti traffic light (lampu lalu-lintas)," ujar Penny Lukito, Kepala BPOM di Gedung C BPOM, Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Senin (9/7).

Masalahnya, apakah BPOM akan menyosialisasikan peraturan tersebut sampai ke masyarakat? 

Editor : Ihsan Maulana

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020