trubus.id
27,5 Ha yang Terbakar di NTT  Adalah Cagar Alam Wae Wuul, Bukan TNK

27,5 Ha yang Terbakar di NTT Adalah Cagar Alam Wae Wuul, Bukan TNK

Astri Sofyanti - Rabu, 04 Jul 2018 14:45 WIB

Trubus.id -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan hutan yang terbakar di kawasan Wae Wuul di Kecamatan Komodo, bukan masuk ke dalam kawasan wisata Taman Nasional Komodo (TNK).

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II BBKSDA NTT P Pudjiadi menjelaskan kawasan hutan seluas 27,5 hektare yang terbakar merupakan cagar alam Wae Wuul bukan kawasan wisata Taman Nasional Komodo.

“Jadi yang diberitakan media asing kalau yang terbakar kawasan wisata TNK itu tidak benar,” ucapnya di Kupang, Rabu (4/7).

Pudjiadi mengatakan, sejumlah lahan yang terbakar adalah milik BKSDA Kementerian Lingkungan Hidup. Lahan yang berada di Flores ini sebagian diduga masuk dalam kawasan wisata di Dusun Menjaga, Desa Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, arah selatan Pulau Rinca Taman Nasional Komodo.

Cagar alam Wae Wuul yang terbakar itu padang rumput atau savana, dan tidak ada lahan gambut di kawasan itu.

"Lahan yang terbakar itu diduga sengaja dilakukan oleh masyarakat setempat," sambungnya.

Baca Lainnya: 25 Titik Titik Panas Picu Kebakaran Hutan di Sumatra

Berdasarkan data yang dimiliki BBKSDA NTT, kebakaran di cagar alam Wae Wuul itu umumnya dilakukan oleh penggembala liar, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.

“Sebenarnya cagar alam tersebut memiliki larangan masuk tanpa izin, termasuk adanya larangan menggembalakan hewan ternak, tapi tetap saja banyak masyarakat menggembala dan masuk gacar alam itu tanpa izin,” ucapnya.

Guna mencegah terjadi kembali kasus kebakaran tersebut saat ini pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan cara pemasangan papan larangan membakar lahan.

Pihaknya juga telah membentuk kelompok masyarakat mitra api (MPA) yang akan rutin melakukan patroli kebakaran, lakukan deteksi dini lokasi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mengajak warga sekitar turut memadamkan api saat terjadinya kebakaran.

"Ini salah satu cara mengajak masyarakat untuk peduli kepada lingkungan sekitar. Apalagi saat ini sedang musim kemarau, kecenderungan untuk terjadi kebakaran lahan akan semakin menyebar ke kawasan lainnya,” tutup Pudjiadi. [KW]

Editor : Karmin Winarta

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020