trubus.id
Life » Bisakah Rumput Laut Selamatkan Krisis Plastik Indo...
Bisakah Rumput Laut Selamatkan Krisis Plastik Indonesia?

Bisakah Rumput Laut Selamatkan Krisis Plastik Indonesia?

Ayu Setyowati - Selasa, 03 Jul 2018 11:00 WIB

Trubus.id -- Indonesia menghasilkan lebih banyak polusi plastik laut daripada negara lain, kecuali China. Ini mungkin tidak mengejutkan, mengingat kepulauan terbesar di dunia ini juga merupakan populasi keempat terbanyak. Penghasilan terbatas menjadikan masyarakat miskin bergantung pada plastik sekali pakai murah seperti tas, cangkir air hingga sampo sachet. Ditambah dengan sistem pengelolaan limbah masih belum sempurna, di mana setiap tahun, jutaan ton sampah berakhir di saluran air dan akhirnya samudra.

Johnny Langenheim, seorang penulis dan pembuat film yang tertarik dengan ekologi manusia, menulis untuk The Guardian, jika pada tahun lalu, Indonesia menjanjikan US$1 miliar untuk memangkas limbah laut sebesar 70 persen pada tahun 2025. Selain mengubah kebiasaan konsumen dan meningkatkan infrastruktur pengelolaan limbah, industri perlu menjauh dari plastik sekali pakai dan dengan cepat memperkenalkan dan meningkatkan alternatif biodegradable.

Di sinilah rumput laut masuk. Produksi rumput laut Indonesia adalah yang kedua setelah China dan meningkat sekitar 30 persen per tahun. Indonesia juga merupakan produsen rumput laut merah terbesar di dunia, varietas yang ideal untuk membuat plastik dan kemasan bio.

Baca Lainnya : Ketahuan Pakai Kantong Plastik Sekali Pakai, Warga di Mumbai Didenda Rp5,2 Juta

Saat ini, sebagian besar bio plastik berasal dari sumber-sumber terrestrial yang terkait dengan industri makanan, termasuk jagung, tebu dan singkong. Namun, menurut Bakti Berlyanto Sedayu, peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, rumput laut adalah alternatif yang jauh lebih berkelanjutan.

Bakti mengatakan bahwa bio plastik berbasis lahan membutuhkan investasi besar di lahan, mempertaruhkan jenis deforestasi bencana yang kita lihat dengan minyak sawit. Mereka juga menggunakan pupuk dan pestisida dan tidak selalu bisa terurai seperti yang banyak digambarkan.

Sebaliknya, rumput laut murah untuk diproduksi karena dibudidayakan di lepas pantai, tumbuh dengan cepat dan tidak memerlukan air segar atau bahan kimia untuk tumbuh dengan sukses. Ranjang rumput laut juga merupakan penyerap karbon alami, air yang mende-acidifying.

Baca Lainnya : Lantaran Memberlakukan Larangan Plastik, Staf Supermarket di Austalia Alami Pelecehan

Kondisi di Indonesia sangat ideal untuk budidaya rumput laut, di mana matahari bersinar lebih atau kurang sepanjang tahun dan ada lebih dari 34.000 mil garis pantai. Dan karena tekanan pada stok ikan terus meningkat, penduduk pesisir beralih ke budidaya rumput laut sebagai alternatif. Bakti percaya itu bisa memakan waktu hanya lima hingga sepuluh tahun untuk membawa produksi bio plastik ke skala industri, meskipun akan memerlukan manajemen yang cermat.

Akankah Mulai Diproduksi?

Untuk saat ini, kemasan berbasis rumput laut belumlah dalam masa pertumbuhan. Start up Indonesia, Evoware, memproduksi produk rumput laut yang dapat dimakan, termasuk gelas jeli, sachet dan pembungkus makanan. Namun, masih diproduksi secara konvensional karena menggunakan tangan dan hanya tersedia bagi perusahaan untuk mengambil sampel sebagai bagian dari fase pengujian mereka.

Ini akan segera berubah, namun menurut pendiri dan CEO David Christian, "Kami mengharapkan untuk sepenuhnya memproduksi tahun depan," pengusaha berusia 23 tahun itu menjelaskan. "Ketika itu terjadi, kemasan edible kami akan menelan biaya sekitar 30 persen lebih banyak daripada plastik yang ada, sangat kompetitif."

Baca Lainnya : September 2018, Gerai Makanan Ini Tidak Lagi Pakai Sedotan Plastik

Evoware juga bekerja langsung dengan petani rumput laut. Saat ini, 80 persen rumput laut diproses di luar Indonesia. Rantai pasokan yang panjang berarti petani mendapatkan sebagian kecil keuntungan.

“Kami mengajari mereka cara menumbuhkan rumput laut berkualitas tinggi dan mencucinya dengan benar. Plus, kami membayar dua kali lipat dari harga yang biasanya mereka dapatkan,” kata Christian.

Perusahaan dan konsumen perlu mengubah praktik mereka jika kemasan dan plastik bio berbahan dasar rumput laut memiliki harapan untuk menjadi mainstream. Awal bulan ini, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan dua organisasi Islam terbesar untuk memotong penggunaan plastik sekali pakai.

Baca Lainnya : Studi Terbaru, Ribuan Sampah Plastik Ada di Kedalaman 10.898 Meter di Bawah Laut

Gerakan warga seperti kampanye Bye Bye Plastic Bag di Bali, proyek lokal yang diprakasai oleh anak-anak sekolah, telah membantu menempatkan masalah sampah plastik dalam sorotan. Selama tiga tahun terakhir, perayaan tahunan Coral Triangle Day, yang jatuh pada tanggal 9 Juni setelah Hari Laut Dunia, telah mengadakan kontes di media sosial demi mendorong konsumen untuk mempertimbangkan kembali hubungan mereka dengan plastik sekali pakai.

Setelah menandatangani kampanye Clean Seas PBB, yang menargetkan produksi dan konsumsi plastik sekali pakai, pemerintah Indonesia perlu mengembangkan kerangka kerja hukum di tingkat nasional dan regional untuk memberikan landasan bagi rantai pasokan baru, pengelolaan limbah yang efektif dan keterlibatan masyarakat. Janji sekarang harus didukung oleh tindakan konkrit. Ya, nyata. [DF]

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020