trubus.id
Life » Gerakan Tanpa Sedotan, Tren Baru Mengurangi Sampah...
Gerakan Tanpa Sedotan, Tren Baru Mengurangi Sampah Plastik

Gerakan Tanpa Sedotan, Tren Baru Mengurangi Sampah Plastik

Astri Sofyanti - Senin, 02 Jul 2018 14:00 WIB

Trubus.id -- Hingga saat ini, keberadaan sampah plastik menjadi masalah besar untuk lingkungan karena menjadi penyumbang limbah terbanyak di dunia. Parahnya lagi, limbah plastik sulit terurai karena membutuhkan ratusan tahun. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi masalah sampah plastik, salah satunya dengan melakukan gerakan tanpa sedotan.

Berbeda dengan limbah plastik lain, sampah sedotan plastik cenderung terabaikan lantaran ukurannya yang kecil serta sulit untuk dilakukan daur ulang.

"Banyak orang biasanya akan membiarkan sampah sedotan karena tidak memiliki nilai guna,” kata Hendra Yuniarto, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Baca Lainnya : September 2018, Gerai Makanan Ini Tidak Lagi Pakai Sedotan Plastik

Satu kilogram sampah sedotan plastik hanya dihargai Rp800 saja. Tidak heran jika pemulung lebih memilih sampah plastik berukuran besar untuk dikumpulkan dan dijual ke pengepul.

Selain itu, gerakan tanpa sedotan plastik ini juga bertujuan untuk menjaga biota laut. Saat ini, terdapat 11 miliar fragmen plastik yang mengendap di terumbu karang Asia Pasifik. Nah, gerakan tanpa sedotan plastik atau #Nostrawmovement berhasil menurunkan penggunaan sedotan secara signifikan.

Kampanye ini mengajak setiap orang untuk menolak dan tidak lagi menggunakan sedotan plastik sekali pakai saat menikmati minuman. Gerakan ini awalnya diterapkan oleh salah satu gerai restoran dengan menu ayam sejak tahun lalu.

Baca Lainnya : Ratusan Limbah Sedotan Plastik Berhasil Diangkut dari Pantai Sydney

Restoran siap saji ini tidak lagi meyediakan sedotan plastik dengan menghilankan tempat sedotan. Walau begitu, sedotan plastik tetap diberikan jika konsumen benar-benar membutuhkannya dan meminta langsung ke pelayan.

Awalnya, gerakan ini hanya diterapkan pada enam gerai saja. Secara perlahan, aksi ini meluas ke 233 gerai di Jabodetabek pada akhir 2017 lalu. Sejak Mei 2018, tren ini telah menjadi gerakan nasional dan berlaku di 630 gerai di seluruh Indonesia.

Hasilnya pun cukup menakjubkan. Gerakan tanpa sedotan plastik berhasil mengurangi pemakaian sedotan plastik sebanyak 45 persen dari total penjualan rata-rata 5 juta minuman setiap bulannya untuk wilayah Jabodetabek.

Baca Lainnya : Gaya Hidup Hijau, Jangan Pakai Sedotan Plastik

"Jabodetabek berhasil menurunkan 45 persen penggunaan sedotan plastik. Dengan kata lain, sebanyak 45 persen konsumen tidak lagi menggunakan sedotan plastik," paparnya.

Untuk itu, Hendra menargetkan gerakan ini mampu menurunkan penggunaan sedotan plastik hingga 100 persen. Meski begitu, Hendra sadar jika hasil ini tak bakal didapat dalam jangka yang cepat.

Hendra mengatakan jika perusahaannya tengah mencari cara mengganti sedotan berukuran besar untuk minuman berjenis float dan sedotan tipis untuk minuman hangat seperti kopi yang masih disediakan di semua gerai restoran. [DF]

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020