trubus.id
BKIPM Aceh Minta Warga Serahkan Ikan Invasif Mereka Sebelum Dirazia

BKIPM Aceh Minta Warga Serahkan Ikan Invasif Mereka Sebelum Dirazia

Syahroni - Minggu, 01 Jul 2018 07:00 WIB

Trubus.id -- Pasca terungkapnya kasus pelepasan ikan Arapaima gigas di Sungai Brantas, Jawa Timur, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) semakin gencar melakukan sosialisasi pelarangan budi daya dan peredaran ikan invasif.

Di Provinsi Aceh, KKP melalui melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) pun melakukan hal yang sama. BKIPM Provinsi Aceh tengah gencar melakukan sosialisasi pelarangan budi daya dan peredaran ikan invasif di wilayah mereka. Ikan invasif dikenal sebagai predator bagi ikan lainnya sehingga bisa mengganggu ekosistem sumber daya ikan di Aceh.

Baca Lainnya : Ini Bahayanya Jika Ikan Arapaima Gigas Dilepas di Perairan Umum Indonesia

Karena itu, Kepala BKIPM Aceh, Diky A Setiawan meminta masyarakat yang memelihara ikan invasif agar segera memberikan ikan-ikan mereka ke BKIPM Aceh untuk dimusnahkan. Pihaknya membuka posko di Kantor BKIPM Aceh mulai 1 sampai 31 Juli 2018 bagi masyarakat yang memiliki ikan invasif.

Usai tenggat waktu itu, pihaknya bersama Dinas Kelautan dan Perikanan, BKSDA Aceh, dan instansi lainnya akan melakukan razia di seluruh Aceh.

"Indikasinya (ikan invasif) di Aceh ada di Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Langsa. Kalau mereka tidak menyerahkan kita akan merazia," ujar Diky kepada wartawan di Banda Aceh, Sabtu (30/6) kemarin.

Ia menyebutkan, dalam Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 yang telah diubah menjadi UU nomor 45 tahun 2009 pada pasal 12 ayat 2 menyebutkan bahwa setiap orang dilarang melakukan budi daya ikan-ikan berbahaya terhadap sumber daya ikan.

Jika melanggar, lanjutnya, diancam dengan pidana paling lama 6 tahun dan denda Rp1,5 miliar.

Baca Lainnya : Arapaima Gigas Ikan Predator yang Bernilai Ekonomis

Ikan invasif biasanya bukan berasal dari Indonesia, seperti araipama gigas, piranha, dan aligator jar. Menurut  Diky A Setiawan, pelarangan peredaran ikan invasif di Aceh menurutnya agar tidak merusak konservasi sumber daya alam, khususnya perikanan.

Diky berujar, ikan invasif kerap dijadikan peliharaan oleh masyarakat. Ikan invasif jenis aligator pernah ditemukan di Aceh Utara pada 2015 lalu. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020