trubus.id
Dorong Industri Ramah Lingkungan, Kemenperin Percepat Produksi Plastik Mudah Terurai

Dorong Industri Ramah Lingkungan, Kemenperin Percepat Produksi Plastik Mudah Terurai

Astri Sofyanti - Selasa, 26 Jun 2018 15:15 WIB

Trubus.id -- Masalah sampah plastik cukup menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, sampah plastik harus diminimalisir. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menciptakan plastik ramah lingkungan yang mudah terurai.

Untuk itu, guna menciptakan kantong plastik seperti itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memacu peningkatan produksi biodegradable plastic atau plastik yang mudah terurai ini.

Baca Lainnya : Kemenperin dan UNDP, Ajak Masyarakat Ikut Perangi Sampah Plastik

Kemenperin menargetkan produksi plastik ramah lingkungan hingga lima persen dari jumlah kebutuhan plastik nasional sebesar 200 ribu ton per tahunnya untuk menggantikan kantong plastik konvensional yang tak ramah lingkungan dan sulit diurai.

Untuk itu, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menegaskan, langkah ini merupakan komitmen pemerintah guna mendorong pertumbuhan industri berkelanjutan yang ramah lingkungan. Airlangga juga berharap produksi biodegradable plastic turut berkontribusi menjaga kelestarian alam.

“Kami menargetkan dalam kurun waktu dua tahun, produksinya bisa 10 kali lipat makin banyak, tujuannya tak hanya untuk menggantikan shopping bag tapi juga packaging secara keseluruhan, dan tidak hanya di pasar modern, kami juga akan menyasar pasar tradisional,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (26/6).

Baca Lainnya : Hari Lingkungan Hidup, KLHK Ajak Kelola Sampah Plastik Lebih Serius

Airlangga menjelaskan, konsumsi plastik dalam negeri saat ini mencapai lima juta ton per tahunnya. Namun rencana menerapkan kantong plastik yang mudah terurai baru 50 persen bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri.

Lebih lanjut dikatakan Airlangga, Pemerintah Indonesia saat ini tengah gencar mendorong konsep ekonomi sirkular dengan prinsip yang dikenal sebagai 5R. Prinsip ini antara lain dilakukan melalui reduce atau pengurangan pemakaian material mentah dari alam.

Selain itu, juga melalui prinsip reuse atau optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali, daur ulang (recycle), perolehan kembali (recovery), dan perbaikan (repair). Melalui prinsip-prinsip tersebut ekstraksi material mentah dari alam jauh lebih efektif dan efisien. Selain itu limbah plastik yang sulit terurai juga dapat dikurangi.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup (Puslitbang IHLH) Kemenperin, Teddy Caster Sianturi, menambahkan, plastik merupakan hasil revolusi industri yang memegang peranan penting dalam merevolusi hidup manusia.

Baca Lainnya : Indonesia Siap Memimpin Pengendalian Sampah dan Mikroplastik Asia Tenggara

"Plastik berperan dalam segala bidang mulai dari otomotif, elektronika, pangan, dan masih banyak lagi," ungkapnya.

Oleh karena itu, Teddy mengatakan, salah jika mengatakan bye bye plastic, karena yang diperlukan adalah bagaimana melakukan memanajemen sampah plastik yang baik.

"Membakar plastik itu tindakan yang salah. Pembakaran plastik justru menimbulkan senyawa dioksin dan furan yang sangat berbahaya bagi kesehatan jika terhirup manusia," tutupya. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020