trubus.id
Menikmati Indahnya Lampu Colok, Tradisi Ratusan Tahun di Riau Sambut Lebaran

Menikmati Indahnya Lampu Colok, Tradisi Ratusan Tahun di Riau Sambut Lebaran

Diah Fauziah - Selasa, 12 Jun 2018 21:00 WIB

Trubus.id -- Malam-malam terakhir Ramadan di berbagai wilayah di Provinsi Riau kian semarak. Masyarakat berbondong-bondong keluar rumah menyaksikan penyalaan Lampu Colok. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun untuk menyambut Idul Fitri.

Penyalaan Lampu Colok dimulai pada malam 27 Ramadan. Biasanya dipusatkan di tanah lapang, di mana warga akan berlomba-lomba membuat replika masjid dari lampu yang berbahan bekas botol minuman, sumbu dan minyak tanah itu.

Ada beberapa kabupaten yang masih melestarikan kegiatan ini, di antaranya Kabupaten Siak, Bengkalis dan Kota Pekanbaru. Di dareah tersebut, selalu berlangsung meriah dengan replika masjid yang membuat kagum orang melihatnya. Di Kabupaten Bengkalis, kegiatan ini dipusatkan di lapangan sepakbola Desa Meskom. Ratusan warga menyaksikan dihidupkannya 81 ribu Lampu Colok.

Warga tidak melewatkan kesempatan ini untuk berfoto (Foto: Kontributor Trubus.id/ M Syukur).

"Kalau Bengkalis secara umum ada 61 titik lokasi penyalaannya, tersebar di 10 kecamatan yang ada," kata Kepala Dinas Pariwisata Bengkalis H Bustami HY kepada wartawan, Selasa (12/6) siang.

Untuk menyemangati warga, Dinas Pariwisata Bengkalis memperlombakan penyalaan Lampu Colok. Warga dengan tampilan terbaik berhak mendapatkan uang belasan juta dan piagam. Tahun lalu, juara 1 hanya mendapat Rp5 juta, sementara tahun ini naik menjadi Rp15 juta.

"Sedangkan juara 2, mendapat hadiah sebesar Rp14 Juta. Hadiah juara 3 itu Rp13 juta. Harapan 1 Rp12 Juta, harapan 2 Rp11 Juta dan harapan 3 Rp10 juta," ucap Bustami.

Baca Lainnya : Cianjur Jadi Kampung Kolang-kaling Setiap Ramadan

Ia mengucapkan terimakasih kepada warga yang masih melestarikan budaya Lampu Colok secara turun temurun. Kedepannya, hadiah dari perlombaan yang dilakukan akan ditingkatkan lagi supaya warga tetap semangat.

Menurutnya, Lampu Colok dinyalakan setelah masyarakat melaksanakan salat Tarawih dengan tujuan budaya tradisional ini tak mengganggu kekhusyukan warga beribadah.

"Jangan pula sampai kegiatan ini mengurangi ibadah, jangan sampai masjid jadi sepi karena kegiatan ini," kata Bustami.

Baca Lainnya : Bulan Ramadan Jadi Berkah Pedagang Musiman

Lampu Colok tak hanya dinyalakan orangtua saja. Anak-anak dan pemuda juga ikut menyalakannya dengan memakai korek api ataupun obor. Kreasi replika masjid didesain berkat kerjasama orangtua dan pemuda. Usai menyala, dengan gembira masyarakat menyaksikan, entah itu sambil duduk atau berdiri. Tak luput, jepretan kamera silih berganti mengabadikan, baik foto beramai-ramai ataupun selfie.

"Sejak kecil, saya selalu menantikan kegiatan ini," kata Ica, warga sekitar.

Ica melanjutkan, "Rasanya, malam Ramadan tidak lengkap tanpa adanya Lampu Colok. Saya berharap budaya ini akan berlangsung hingga nanti saya tua". [DF]

Editor : Diah Fauziah

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020